IPB Badge

ABSTRAK

Komunikasi kelompok merupakan interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagai informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota – anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota – anggota yang lain secara tepat. Komunikasi kelompok yang sering dijumpai adalah yang terjadi pada kalangan remaja yang membentuk kelompok pertemanan. Pada masa remaja, kecenderungan untuk menjadi anggota kelompok sebaya sangat kuat dalam diri remaja. Remaja sering merasa mendapatkan persetujuan dan penerimaan dari teman sebayanya. Proses komunikasi kelompok yang terjadi pada kelompok pertemanan dikalangan remaja terdapat hambatan yang menyebabkan terganggunya efektivitas dalam berkomunikasi. Pertengkaran diantara sesama anggota kelompok menyebabkan efektivitas komunikasi kelompok terganggu. Keberhasilan komunikasi kelompok tidak sepenuhnya tercapai karena pertengkaran diantara sesama anggota kelompok. Pertengkaran dalam kelompok pertemanan membawa pengaruh terhadap efektivitas komunikasi kelompok.

ABSTRACT

Group communication is an interaction of face-to-face between three people or more, with the aim of which is well known, sucs as various information, keeping themeselves, solving problems, which the members can remember the personal characteristics of members – others member properly. Group communication are often found to occur in teenagers who form a friendship froup. In adoloscence, the tendency to become a member of peer group a powerful in adolescence. Teenegers often feel approval and acceptence from their peer group. The process of group communication that occurs in friendship groups adolescents are barriers that cause the effectiviness of communication. Arguments among the members led to the effectiveness of group communications disrupted. The success of the group communication is not fully achieved because of a fight between fellow members of the group. Arguments in agroup of friends take effect in the effectiveness of group communication.

RINGKASAN

Kalangan remaja dalam kapasitasnya sebagai kalangan transisional (masa peralihan) selalu diidentikan dengan golongan yang masih mencari identitasnya. Artinya, keremajaan merupakan gejala sosial yang bersifat sementara, oleh karena berada antara usia kanak – kanak dengan dewasa. Di usianya yang berada pada masa peralihan, pola sikap tindak remaja ingin diakui dan dihargai oleh sesama remaja (biasanya dalam kelompok sepermainan atau “peer-group”) yang dianggap sebagai suatu pengakuan terhadap eksistensi (keberadaannya) dan sangat dipentingkan oleh remaja. Pada masa remaja. Kecenderungan untuk membentuk kelompok pertemanan dan menjadi anggota kelompok sebaya sangat kuat dalam diri remaja.

Berangkat dari kecenderungan remaja untuk membentuk kelompok pertemanan tersebut, maka dilakukanlah penulisan makalah ini. Penulisan ini dilakukan untuk melihat pertengkaran yang terjadi pada kelompok pertemanan di kalangan remaja, lalu dilihat pengaruh pertengkaran terhadap efektivitas komunikasi kelompok dikalangan remaja. Bagi remaja, teman sebaya mendapat perhatian dan prioritas utama lebih dari perhatian dan prioritas bagi keluarga. Karena kawan – kawan mereka dianggap lebih mudah memberikan pengertian, dukungan, dan penampungan.

Seringkali remaja menghadapi kesulitan justru karena pergaulannya. Dalam kelompok pertemana, terkadang proses komunikasi kelompok yang terjadi antar sesama anggota terdapat hambatan – hambatan yang menyebabkan terganggunya keefektifan dalam berkomunikasi. Pertengkaran yang sering terjadi diantara sesama anggota kelompok menyebabkan efektivitas dalam berkomunikasi terganggu. Pertengkaran yang terjadi dikarenakan adanya kesalahpahaman diantara sesama anggota kelompok. Selain itu adanya ketidakcocokan diantara sesama anggota kelompok dapat menyebabkan pertengkaran dalam kelompok pertemanan. Efektivitas dalam komunikasi kelompok dipengaruhi oleh adanya pertengkaran atau tidak yang terjadi pada anggota kelompok.

Terjadinya pertengkaran diantara sesama anggota kelompok membuat keberhasilan komunikasi kelompok tidak sepenuhnya tercapai. Komunikasi itu dikatakan efektif bila anggota mampu memberikan informasi kepada kelompok mengenai suatu program secara selektif atau mengurangi kesimpangsiuran informasi. Tingkat efektivitas komunikasi kelompok cenderung rendah dengan adanya pertengkaran diantara sesama anggota kelompok.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Wiryanto (2008) menyatakan bahwa proses komunikasi merupakan aktivitas yang mendasar bagi manusia sebagai makhluk sosial. Dalam kehidupan sehari – hari manusia tidak terlepas dalam kegiatan komunikasi. Baik itu komunikasi dengan teman, keluarga, dosen, maupun komunikasi dengan diri sendiri. Sering dijumpai proses komunikasi yang dilakukan oleh orang atau sekelompok orang. Proses komunikasi yang dilakukan oleh manusia bisa dalam bentuk komunikasi antarpribadi ataupun dalam bentuk komunikasi kelompok. Kita sering melihat kelompok – kelompok studi di kampus, atau kita sering melihat kelompok bermain di sekolah. Hal itu merupakan salah satu bentuk bentuk dari tipe komunikasi kelompok (group communication) (Wiryanto, 2004).

Kelompok kecil adalah sekumpulan perorangan yang relatif kecil yang masing – masing dihubungkan oleh beberapa tujuan yang sama dan mempunyai derajat organisasi tertentu diantara mereka (De Vito, 1997). Komunikasi kelompok yang sering dijumpai ialah yang terjadi pada sekelompok remaja yang membentuk jejaring pertemanan atau yang dikenal dengan sebutan “gank” yang biasanya beranggotakan tidak lebih dari lima orang. Kelompok pertemanan tersebut termasuk kedalam kelompok kecil. Jejaring pertemanan itu juga dapat dikatakan kelompok primer. Rakhmat (2004) menyatakan bahwa kelompok primer merupakan kelompok yang hubungannya dekat, lebih akrab, dan lebih personal seperti keluarga, kawan – kawan sepermainan dan tetangga – tetangga yang dekat. Saat ini hampir semua di kalangan remaja membentuk suatu “gank”, baik dikalangan SMP, SMA, maupun ditempat perkuliahan. Bahkan untuk dikalangan anak SD pun tak sedikit yang sudah mulai membentuk jejaring pertemanan seperti itu. Jejaring pertemanan seperti itu tidak hanya terjadi di kalangan remaja saja, untuk dikalangan orang dewasa ataupun orang tua juga banyak dari mereka yang membentuk suatu “gank” atau kelompok pertemanan.

Kalangan remaja beranggapan bahwa dengan membentuk suatu kelompok pertemanan, hubungan mereka dengan anggota yang lainnya akan menjadi semakin dekat karena tingkat kedekatan yang mereka bina. Jejaring pertemanan yang dibentuk oleh remaja dibentuk berdasarkan berbagai latar belakang. Ada yang dibentuk berdasarkan kesamaan hoby, namun ada juga yang dibentuk karena kecocokan diantara masing – masing individu dari awal perkenalan hingga terus berkelanjutan sampai ke tingkat persahabatan. Pada umumnya kelompok mengembangkan norma atau peraturan mengenai perilaku yang diinginkan (De Vito, 1997).

Terkadang dalam proses komunikasi kelompok yang terjadi dalam kelompok pertemanan (“gank”) dikalangan remaja terdapat hambatan – hambatan yang menyebabkan terganggunya efektivitas dalam berkomunikasi. Hambatan – hambatan tersebut yang menyebabkan terganggunya keefektifan komunikasi kelompok dalam hubungan pertemanan dikalangan remaja, misalnya adanya konflik yang terjadi antar anggota dalam kelompok tersebut. Tidak jarang banyak remaja yang mengalami pertengkaran dengan sesama anggotanya di dalam kelompok pertemanan. Banyak hal yang dapat menyebabkan terjadinya pertengkaran dalam kelompok pertemanan atau “gank” dikalangan remaja. Misalnya saja karena kesalahpahaman diantara sesama anggota sehingga terjadilah pertengkaran. Selain itu bisa saja pertengkaran itu disebakan karena masalah percintaan yang dialami oleh anggota kelompok tersebut seperti misalnya perebutan pacar diantara mereka sehingga memicu terjadinya pertengkaran. Hal seperti itu khususnya banyak terjadi dikalangan remaja perempuan.

Pertengkaran yang terjadi diantara sesama anggota kelompok pertemanan tersebut akan membawa pengaruh terhadap efektivitas komunikasi kelompok. Akibat pertengkaran yang terjadi dapat menghambat proses berkomunikasi diantara anggota kelompok pertemanan atau “gank”. Pengaruh yang dapat dirasakan oleh anggota kelompok yang mengalami konflik pertengkaran bisa sampai pada terjadinya perpecahan diantara sesama anggota yag diakibatkan konflik yang berkepanjangan, dan juga tidak dapat diselesaikan oleh anggota. Sehingga membuat suatu kelompok pertemanan berjalan tidak efektif bahkan sampai terjadinya pembubaran kelompok pertemanan.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah yang dirumuskan yaitu :

  1. Apakah yang menyebabkan terjadinya pertengkaran dalam suatu kelompok pertemanan dikalangan remaja ?
  2. Bagaimanakah pengaruh pertengkaran terhadap efektivitas komunikasi kelompok dikalangan remaja ?
  3. Langkah – langkah apakah yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya pertengkaran diantara sesama anggota kelompok pertemanan ?

1.3. Tujuan

Berdasarkan perumusan masalah tersebut,tujuan dari penulisan ini yaitu:

  1. Mengidentifikasi penyebab terjadinya pertengkaran dalam suatu kelompok pertemanan dikalangan remaja.
  2. Mengetahui pengaruh pertengkaran terhadap efektivitas komunikasi kelompok dikalangan remaja.
  3. Mengidentifikasi langkah – langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya pertengkaran.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1.      Pembentukkan Komunikasi Kelompok Pertemanan di Kalangan Remaja

Dalam kehidupan sehari – hari manusia tidak pernah terlepas dari kegiatan komunikasi. Baik itu kegiatan komunikasi dengan teman – teman, keluarga, dosen, maupun komunikasi dengan diri sendiri. Proses komunikasi yang dilakukan manusia dapat dilakukan dalam bentuk komunikasi antar pribadi maupun dalam bentuk komunikasi kelompok. Sering dijumpai kelompok – kelompok studi di kampus, ataupun kelompok bermain di sekolah. Hal itu merupakan salah satu bentuk tipe komunikasi kelompok (group communication) (Wiryanto, 2004)[1]. Komunikasi kelompok yang sering dijumpai adalah yang terjadi pada sekelompok remaja yang membentuk jejaring pertemanan atau yang dikenal dengan “gank”. Kelompok pertemanan tersebut termasuk kedalam kelompok kecil. Menurut Cooley (1909) dalam Rakhmat (2004)[2] kawan – kawan sepermainan tergolong kepada kelompok primer. Hal tersebut dikarenakan hubungan dalam kelompok primer terasa lebih akrab, personal dan lebih menyentuh hati.  Komunikasi kelompok kecil (small group communication) merupakan proses komunikasi antara tiga orang atau lebih yang berlangsung secara tatap muka. Dalam kelompok tersebut anggota berinteraksi satu sama lain.

Masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Remaja adalah seorang yang sedang mengalami perkembangan pesat menuju pada kedewasaan, dan berusia 12 – 19 tahun. Pada usia remaja, terdapat kecenderungan dalam diri remaja untuk membentuk suatu kelompok pertemanan atau “gank” dengan teman – teman sebaya. Bagi remaja, teman sebaya mendapat perhatian dan prioritas utama lebih dari perhatian dan prioritas bagi keluarga. Karena kawan – kawan mereka dianggap lebih mudah memberikan pengertian, dukungan, dan penampungan. Banyak remaja yang beranggapan bahwa teman selalu siap menampung masalah karena merasa senasib. “ Remaja sering merasa mendapat “approval” (persetujuan) dan “acceptance” (penerimaan) dari teman – teman sebayanya” (Achir dalam Sanusi, 1996)[3].

Sigelmann dan Shaffer (1995) dalam Yusuf (2004)[4] menyatakan bahwa social cognition berpengaruh kuat terhadap minat remaja untuk bergaul atau membentuk persahabatan dengan teman sebaya. Di usia remaja, banyak remaja mulai membentuk kelompok bermain atau “gank” dengan teman – teman sebayanya. Mereka lebih memperluas minatnya untuk bergaul dan membentuk persahabatan, bahkan di kalangan siswa SD pun sudah mulai membentuk kelompok pertemanan atau “gank”. Munandar dalam Sanusi (1996)[5] menyatakan bahwa kecenderungan untuk menjadi anggota kelompok dengan teman sebaya pada masa remaja sangatlah kuat. Remaja menginginkan teman, dan menginginkan sekali dapat diterima sebagai anggota kelompok remaja yang kuat ikatan antar anggotanya. Kalangan remaja beranggapan bahwa dengan tergabung kedalam suatu kelompok pertemanan, hubungan mereka dengan antar anggota akan semakin dekat dan akrab. Umumnya, para remaja membentuk suatu kelompok pertemanan di lingkungan sekolah.

“Keikutsertaan individu menjadi anggota kelompok disebabkan alasan – alasan sebagai berikut : (1) perhatian dan keikutsertaan individu ditumbuhkan oleh solidaritas kelompok, (2) perubahan sikap akan lebih mudah terjadi apabila individu berada dalam satu kelompok, selanjutnya keputusan – keputusan kelompok akan lebih mudah diterima dan dilaksanakan apabila individu terlibat dalam pengambilan keputusan, (3) kepercayaan besar yang diberikan kepada kelompok” (Wiryanto, 2004)[6].

Pada umumnya, remaja membentuk suatu kelompok pertemanan atau “gank’ didasarkan pada adanya kecocokan diantara masing – masing individu dari awal perkenalan hingga terus berlanjut sampai ke tingkat persahabatan. Jumlah anggota kelompok yang mereka bentuk biasanya tidak lebih dari 10 orang.

2.2.      Pertengkaran dalam Kelompok Pertemanan di Kalangan Remaja

Sistem nilai, sikap dan kebiasaan yang dibawa oleh masing – masing remaja mengalami pengolahan dalam kelompok, dan sebagai hasilnya maka ada sistem nilai, sikap dan kebiasaan baru yang terbentuk dan diujicobakan dalam lingkungannya. Namun terkadang dalam proses komunikasi kelompok yang terjalin dalam kelompok pertemanan dikalangan remaja terdapat hambatan – hambatan yang menyebabkan terganggunya efektivitas dalam berkomunikasi. “Terbentuknya sistem nilai, sikap dan kebiasaan yang baru dan yang mantap dapat berhasil dipertahankan dalam proses penyerasian dengan lingkungan, tapi mungkin pula tidak berhasil dipertahankan dengan akibat timbulnya masalah – masalah baru pada remaja” (Munandar dalam Sanusi, 1996)[7]. Hambatan – hambatan tersebut yang menyebabkan terganggunya keefektifan komunikasi kelompok dalam hubungan pertemanan dikalangan remaja misalnya, adanya konflik yang terjadi diantara sesama anggota dalam kelompok pertemanan tersebut. Banyak remaja yang mengalami pertengkaran dengan sesama anggota kelompok pertemanan. Pertengkaran yang terjadi itu biasanya disebabkan oleh banyak hal, misalnya saja adanya kesalahpahaman diantara sesama anggota sehingga menimbulkan terjadinya pertengkaran. Selain itu juga penyebab terjadinya pertengakaran dalam kelompok pertemanan yang dialami remaja yaitu sudah tidak adanya kecocokan diantara masing – masing anggota. Seringkali remaja menghadapi kesulitan karena pergaulannya.

“Diantaranya adalah ingin melepaskan diri dari suatu kelompok pergaulan tertentu tetapi tidak berani atau tidak tahu caranya. Banyak remaja yang setelah masuk dalam kelompok tertentu, lalu sering bermain dan bergaul dengan kelompok itu akhirnya menyadari bahwa pergaulan mereka itu buruk dan tidak bermanfaat. Tetapi biasanya remaja segan untuk menarik diri, karena takut diejek atau dikucilkan” (Achir dalam Sanusi, 1996)[8].

Hal itulah yang akhirnya menyebabkan terjadinya pertengakaran karena timbul konflik dalam diri remaja dengan anggota kelompok yang lain. Umumnya setelah masuk kedalam suatu kelompok pertemanan atau “gank” remaja mengalami kesulitan untuk menarik diri dari kelompok tersebut. Mereka takut untuk diejek dan dikucilkan setelah keluar dari kelompok pertemanan dengan alasan harus menjaga solidaritas dengan sesama anggota kelompok.

2.3.      Pengaruh Pertengkaran Terhadap Efektivitas Komunikasi Kelompok

Akibat dari pertengkaran yang terjadi dalam suatu kelompok pertemanan dikalangan remaja akan membawa pengaruh terhadap efektivitas komunikasi kelompok. Pertengkaran yang terjadi akan menghambat proses komunikasi diantara anggota kelompok. “ Keefektifan kelompok adalah “the accomplishment of the recognized objectives of cooperative action” “( Barnard (1983) dalam Rakmat (2004) )[9].

Keberhasilan komunikasi kelompok disebabkan oleh keterbukaan anggota menanggapi, anggota dengan senang hati menerima informasi, kemauan anggota merasakan apa yang dirasakan anggota lain, situasi kelompok yang mendukung komunikasi berlangsung efektif, perasaan positif terhadap diri anggota kelompok, dorongan terhadap aorang lain agar lebih berpartisipasi, dan kesetaraan, yakni bahwa semua anggota kelompok memiliki gagasan yang penting untuk disumbangkan kepada kelompok (Wiryanto, 2004)[10].

Jika hal – hal tersebut tidak terpenuhi, maka keberhasilan komunikasi kelompok yang terjadi pada kelompok pertemanan dikalangan remaja tidak sepenuhnya tercapai karena pertengkaran yang terjadi diantara sesama anggota kelompok.

Selain itu Rakhmat (2004)[11] mengemukakan bahwa keefektifan kelompok dapat dilihat pada : (1) ukuran kelompok, dari segi komunikasi makin besar kelompok makin besar kemungkinan sebagian besar anggota tidak mendapatkan kesempatan berpartisipasi, (2) jaringan komunikasi, (3) kohesi kelompok, kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk tetap tinggal dalam kelompok, (4) kepemimpinan, faktor yang paling menentukan keefektifan komunikasi kelompok. Akibat pertengkaran yang terjadi, proses komunikasi yang terjadi diantara sesama anggota tidak akan berjalan dengan lancar. Akan ada perselisihan diantara sesama anggota kelompok karena pertengkaran yang terjadi, sehingga membuat efektivitas komunikasi kelompok tidak tercapai.

2.4.     Langkah – Langkah dalam Menyelesaikan Pertengkaran dalam Kelompok Pertemanan

Terkadang konflik yang terjadi diantara sesama anggota kelompok akan berlanjut secara berkepanjangan. Banyak remaja yang mengalami kesulitan untuk mengatasi konflik yang terjadi dengan teman kelompok pertemanannya. Bahkan biasanya pertengkaran yang terjadi semakin berlarut – larut dan semakin melebar permasalahan yang terjadi diantara mereka. Pengaruh yang dapat dirasakan oleh anggota kelompok yang mengalami konflik pertengkaran bisa sampai pada terjadinya perpecahan diantara sesama anggota  akibat konflik yang berkepanjangan dan tidak dapat terselesaikan oleh anggota. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya perpecahan diantara sesama anggota perlu adanya penyelesaian yang dilakukan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan yaitu dengan membentuk kelompok pemecahan – masalah. Menurut De Vito (1997)[12] kelompok pemecahan – masalah adalah sekumpulan individu yang bertemu untuk memecahkan suatu masalah tertentu atau untuk mencapai suatu keputusan mengenai beberapa masalah tertentu.

Dalam kelompok pertemanan harus ada yang memimpin  dalam menyelesaikan masalah pertengkaran yang terjadi diantara sesama anggota kelompok. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pendekatan pemecahan masalah untuk menyelesaikan konflik yang terjadi. Tahap – tahap dari pendekatan pemecahan masalah yaitu : (1) definisi dan analisis masalah. Suatu masalah akan lebih baik didefinisikan sebagai pertanyaan yang terbuka. Suatu pertanyaan terbuka memungkinkan terjadinya kebebasan eksplorasi yang lebih besar dan tidak membatasi bagaimana kelompok melakukan pendekatan atas pemecahan suatu masalah. (2) menyusun kriteria untuk mengevaluasi pemecahan. Terdapat dua jenis kriteria yang harus dipertimbangkan yaitu kriteria praktis dan kriteria nilai. (3) identifikasi pemecahan yang mungkin. Memusatkan lebih pada kuantitas daripada kualitas. Pada tahap ini, proses sumbang saran merupakan cara praktis untuk mengembangkan alternatif pemecahan. (4) evaulasi pemecahan. setelah semua pemecahan diajukan, para anggota kelompok kembali dan mengevaluasi pemecahan itu dengan menggunakan kriteria yang telah disusun untuk mengevaluasi alternatif pemecahan masalahnya. (5) memilih pemecahan terbaik. Pada tahap ini cara pemecahan terbaik akan dipilih dan dilaksanakan. (6) pengujian pemecahan yang dipilih. Setelah cara pemecahan terbaik dilaksanakan, lakukanlah pengujian terhadap efektivitas keputusan itu. (De Vito ,1997 )[13].

Pendekatan pemecahan – masalah tersebut dapat digunakan untuk mengatasi konflik pertengkaran yang terjadi dalam kelompok pertemanan dikalangan remaja. Pertengkaran yang terjadi diantara sesama anggota kelompok harus dapat diselesaikan dengan baik agar tidak terjadi perpecahan diantara sesama anggota atau bahkan hingga terjadi pembubaran kelompok pertemanan. Setiap anggota harus memilki peran dalam komunikasi kelompok kecil untuk menjaga agar komunikasi kelompok yang terjadi tetap terjaga keefektifannya. Dalam menjalankan setiap peran ini,anggota tidak berbuat sebagai individu yang terpisah, tetapi sebagai bagian dari keseluruhan yang lebih besar. Setiap masalah yang terjadi pada sesama anggota kelompok dibicarakan secara terbuka satu dengan yang lainnya. Agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara anggota kelompok, setiap masalah yang terjadi dibicarakan dengan baik – baik dan mencari solusi untuk menyelesaikannya. Sehingga dapat menghindari akibat yang tidak baik dari pertengkaran yang terjadi antara sesama anggota kelompok. Jika ingin kita mewujudkan suatu komunikasi yang baik, hal pertama yang mesti kita miliki adalah “kesungguhan” (Chandra, 2009)[14].

Tabel 1. Peran membina dan Mempertahankan Kelompok

Peran Tugas
Pendorong Memberikan kepada kelompok dukungan atau pemantapan positif dalam bentuk dukungan sosial atau menghargai gagasan mereka
Penjaga harmoni Menjembatani berbagai perbedaan diantara para anggota kelompok
Tukang kompromi Berusaha menyelesaikan konflik antara gagasannya dengan gagasan orang lain, dan menawarkan jalan tengah
Penjaga gerbang Mempertahankan saluran komunikasi tetap terbuka dengan mendorong partisipasi para anggota lainnya
Penyusun standar Mengusulkan standar agar kelompok dapat berfungsi atau standar pemecahannya
Pengamat kelompok dan komentator Membuat catatan tentang apa yang terjadi dan menggunakannya untuk evaluasi kelompok itu sendiri
Pengikut Selalu mengikuti para anggota kelompok, secara pasif menerima gagagasan orang lain, dan lebih berfungsi sebagai hadirin daripada sebagai anggota yang aktif

Sumber : Joseph A.De Vito, Komunikasi Antar Manusia. 1997.

BAB III

PENUTUP

3.1.    Kesimpulan

Proses komunikasi yang dilakukan oleh manusia dapat dalam bentuk komunikasi antarpribadi maupun dalam bentuk komunikasi kelompok. Komunikasi kelompok yang sering dijumpai adalah yang terjadi pada sekelompok remaja yang membentuk suatu kelompok pertemanan atau “gank’. Pada usia remaja, terdapat kecenderungan dalam diri remaja untuk membentuk suatu kelompok pertemanan atau “gank”. Kecenderungan untuk membentuk kelompok pertemanan tersebut sangat kuat dalam diri remaja. Kalangan remaja beranggapan dengan tergabungnya kedalam suatu kelompok pertemanan, hubungan mereka dengan antar anggota kelompok menjadi semakin dekat dan akrab. Dalam proses komunikasi kelompok yang terjadi pada kelompok pertemanan dikalangan remaja terdapat hambatan – hambatan yang menyebabkan terganggunya efektivitas dalam berkomunikasi. Hambatan – hambatan tersebut misalnya, adanya konflik yang terjadi antar anggota kelompok sehingga menimbulkan pertengkaran antar sesama anggota kelompok. Pertengkaran itu disebabkan oleh adanya kesalahpahaman yang terjadi diantara sesama anggota kelompok.

Pertengkaran yang terjadi diantara sesama anggota kelompok membawa pengaruh terhadap efektivitas  komunikasi kelompok. Akibat pertengkaran yang terjadi diantara sesama anggota kelompok menghambat keefektifan proses komunikasi diantara anggota kelompok. Selain itu keberhasilan komunikasi kelompok juga tidak akan tercapai dengan adanya pertengkaran. Bahkan pengaruh yang dapat dirasakan oleh anggota kelompok yang mengalami konflik pertengkaran bisa sampai pada terjadinya perpecahan diantara sesama anggota karena konflik yang berkepanjangan dan tidak terselesaikan. Penyelesaian yang dapat dilakukan untuk menghindari perpecahan diantara sesama anggota adalah dengan membentuk kelompok pemecahan masalah. Dalam kelompok pertemanan harus ada yang memimpin  dalam menyelesaikan masalah pertengkaran yang terjadi diantara sesama anggota kelompok. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pendekatan pemecahan masalah untuk menyelesaikan konflik yang terjadi.

3.2.    Saran

Berdasarkan uraian dari penulisan makalah yang penulis buat, saran atau rekomendasi yang penulis ajukan untuk menyempurnakan penulisan dari makalah ini yaitu :

  1. Perlu adanya penelitian yang dilakukan untuk mempertajam hasil penulisan dari makalah ini atau guna untuk menjawab beberapa pertanyaan yang muncul ketika penulisan berlangsung,
  2. Penulis menyarankan langkah – langkah operasional yang dapat dilakukan untuk mengatasi / memecahkan masalah yang diangkat yaitu mengadakan kegiatan talkshow kepada kalangan remaja guna menerangkan sebab akibatnya dari permasalahan yang diangkat dalam penulisan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Chandra,Jusra.2009.Cerdik Berbicara Cerdas Menguasai suasana.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

De Vito,Joseph A.1997.Komunikasi Antar Manusia.Maulana Agus, penerjemah.Jakarta: Profesional Books. Terjemahan dari Human Communication

Rakmat,Jalaludin. 2004.Psikologi Komunikasi.Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Sanusi,dkk (penyunting). 1996.Mengenal dan Memahami Masalah Remaja. Jakarta: Pustaka Antara PT (anggota IKAPI)

Wiryanto.2004.Pengantar Ilmu Komunikasi.Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia

Yusuf, LN. Syamsu. 2004.Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung:  PT Remaja Rosdakarya


[1] Wiryanto,Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta:PT gramedia Widiasarana Indonesia, 2004), h. 44

[2] Jalaludin Rakhmat,Psikologi Komunikasi, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2004), h.142

[3] Sanusi,Mengenal dan Memahami Masalah Remaja, (Jakarta:Pustaka Antara,1996), h.83

[4] Syamsu Yusuf LN,Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004),h.59

[5] Sanusi, op.cit, h.25

[6] Wiryanto, op.cit, h.47

[7] Sanusi,loc.cit

[8] Ibid, h. 85

[9] Jalaludin Rakhmat,op.cit, h.159

[10] Wiryanto, op.cit, h.48

[11] Jalaludin Rakhmat, loc.cit

[12] Joseph A. De Vito,Komunikasi Antar Manusia, (Jakarta:Profesional Books,1997), Agus Maulana,penerjemah,terjemahan dari Human Communication,h. 304

[13] Ibid, h. 304

[14] Jusra Chandra, Cerdik Berbicara Cerdas Menguasai Suasana,(Jakarta:PT Gramedia Pustaka,2009), h. 72

Comments are closed.