IPB Badge

BAB I

PENDAHULUAN

1.1      Latar Belakang

Sosiologi pedesaan merupakan salah satu cabang sosiologi yang mempelajari dan menganalisis budaya masyarakat pedesaan secara sosiologis, yang meliputi organisasi dan stuktur, nilai-nilai dan proses-proses sosial, dan juga termasuk perubahan-perubahan sosial. Objek kajian dari studi sosiologi pedesaan adalah masyarakat desa dengan pola-pola kebudayaan yang ada di desa tersebut. Desa merupakan satuan administratif yang diatur oleh pemerintah, selain itu desa diartikan sebagai suatu sistem yang merupakan suatu kesatuan yang utuh, terbentuk secara berkesinambungan dalam kurun waktu yang relatif lama.

Seorang sosiolog terkemuka yaitu Pitirim A. Sorokin menyatakan bahwa sistem berlapis-lapis merupakan ciri yang tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang hidup teratur, seperti yang terjadi pada desa. Hal tersebut menyebabkan stratifikasi sosial yang  melekat pada desa. Stratifikasi sosial dapat dipengaruhi oleh kekuasaan dan peran yang terdapat dalam kedudukan sosial seseorang. Faktor-faktor yang menjadi ukuran atau kriteria sebagai dasar pembentukan dasar pelapisan sosial yaitu, ukuran kekayaan, ukuran kekuasaan dan wewenang, ukuran kehormatan, dan ukuran ilmu pengetahuan. Kedudukan sosial merupakan tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya yang berhubungan dengan orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya, dan hak-hak serta kewajiban-kewajibannya.

Di dalam sebuah desa biasanya terdapat orang-orang yang dihormati, berpendidikan, memiliki kekuasaan dan wewenang  serta memiliki kekayaan. Hal tersebut mengindikasikan adanya lapisan-lapisan yang akan terbentuk di Desa Krekel yang biasa disebut dengan stratifikasi sosial. Lapisan yang terdapat dalam stratifikasi sosial tersebut terbagi menjadi tiga bagian yaitu lapisan atas, lapisan menengah, dan lapisan bawah. Lapisan atas umumnya terdiri dari orang-orang yang memiliki kekayaan, kekuasaan dan wewenang. Sedangkan untuk lapisan menengah terdiri dari orang-orang yang terdidik, sementara untuk lapisan bawah terdiri dari masyarakat miskin. Dari uraian tersebut kelompok kami ingin mengetahui siapa saja yang ikut membantu permasalahan yang dihadapi oleh lapisan bawah, apakah lapisan atas, lapisan menengah, pihak yang berada di luar desa ataukah lapisan bawah tersebut yang menyelesaikan masalah mereka sendiri.

1.2       Rumusan Masalah

  1. Bagaimana srtatifikasi sosial yang terbentuk di Desa Krekel?
  2. Bagaimana dampak yang terjadi akibat adanya stratifikasi sosial di Desa Krekel?
  3. Bagaimana peranan setiap lapisan dalam mengatasi masalah lapisan bawah?

1.3 Tujuan

  1. Mengetahui stratifikasi sosial yang terjadi di Desa Krekel.
  2. Mengetahui dampak yang terjadi akibat adanya stratifikasi sosial di Desa Krekel.
  3. Mengetahui peranan setiap lapisan dalam mengatasi masalah lapisan bawah.

1.4 Manfaat Penelitian

  1. Memperoleh gambaran dan menambah khasanah pengetahuan tentang stratifikasi yang terjadi di desa tersebut.
  2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi kalangan akademis untuk melakukan penelitian selanjutnya.
  3. Dapat membantu pemerintah serta penyuluh untuk memperbaiki pembangunan desa tersebut.

BAB II

PENDEKATAN TEORITIS

2.1       Tinjauan Pustaka

Kata stratification berasal dari stratum  (jamaknya : strata yang berarti lapisan). Social stratification adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hierarkis). Perwujudannya adalah adanya kelas-kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah. Dasar dan inti lapisan-lapisan dalam masyarakat adalah tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak-hak dan kewajiban-kewajiban, kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab nilai-nilai sosial dan pengaruhnya di antara anggota-anggota masyarakat (Sorokin (1959) dalam Soekanto (1987)).

Berbeda dengan pendapat Soekanto, Pareto dalam Kartodirjo menemukan dua strata penduduk diantaranya : pertama, lapisan yang lebih tinggi, golongan elite yang dibagi lagi kedalam dua kelompok, yaitu elite yang memerintah dan elite yang tidak memerintah. Kedua, lapisan yang lebih rendah, yang bukan elite dan mungkin berpengaruh juga dalam pemerintahan. Konsepsi Pareto ini ada hubungannya dengan karya Gaetanomosca. Mosca mengemukakan bahwa dalam suatu masyarakat senantiasa muncul dua kelas : kelas yang memerintah dan kelas yang tidak memerintah. Namun, ada pula unsur lain dalam teori Mosca yang sedikit mengubah cetusan pokok-pokok pikirannya semula. Unsur tersebut adalah munculnya suatu kelas menengah baru yang lebih besar jumlahnya

Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial adalah sebagai berikut : Pertama, ukuran kekayaan. Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak maka ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, barang siapa tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja

Kedua, ukuran kekuasaan dan wewenang, seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Menurut Mac. Iver dalam Soekanto (1987) terdapat tiga pola umum dari sistem lapisan-lapisan kekuasaan yaitu : Tipe Kasta adalah sistem lapisan kekuasaan dengan garis-garis pemisahan yang tegas dan kaku. Tipe senacam ini biasanya dijumpai pada masyarakat-masyarakat yang berkasta yang hampir tak terjadi gerak sosial vertikal; Tipe Oligarkis yang masih mempunyai garis-garis pemisah yang tegas, akan tetapi dasar pembedaan kelas-kelas sosial ditentukan oleh kebudayaan tersebut terutama dalam hal kesempatan yang diberikannya kepada para warga masyarakat untuk memperoleh kekuasaan-kekuasaan tertentu. Tipe semacam ini dijumpai pada masyarakat-masyarakat feodal yang telah berkembang; Tipe Demokratis menunjukkan kenyataan-kenyataan akan adanya garis-garis pemisah antara lapisan yang bersifat mobile sekali. Kelahiran tidak menentukan seseorang berkuasa akan tetapi kemampuan dan keberuntungan yang menentukan seseorang berkuasa.

Ketiga, ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.

Keempat, ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan (Soekanto, 1987).

Unsur-unsur dalam teori sosiologi yang mewujudkan tentang sistem berlapis-lapis dalam masyarakat adalah kedudukan dan peranan. Kedudukan sosial adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakatnya yang berhubungan dengan orang-orang lain dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya, dan hak-hak serta kewajiban-kewajiban. Kedudukan  sosial tidaklah semata-mata berarti kumpulan kedudukan seseorang dalam kelompok-kelompok yang berbeda, akan tetapi kedudukan sosial mempengaruhi kedudukan seseorang dalam kelompok-kelompok sosial yang berbeda (Roucek dan Warren (1962) dalam Soekanto (1987)).

Masyarakat pada umumnya mengembangkan dua macam kedudukan yaitu: Pertama, Ascribed-Status merupakan kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memperhatikan perbdeaan-perbedaan kerohaniah dan kemampuan. Kedudukan tersebut diperoleh karena kelahiran, misalnya kedudukan anak seorang bangsawan adalah bangsawan pula. Kedua, Achieved-Status adalah kedudukan yang dicapai oleh seseorang dengan usaha-usaha yang disengaja. Kedudukan tidak diperoleh atas dasar kelahiran, akan tetapi bersifat terbuka bagi siapa saja, tergantung dari kemampuannya masing-masing dalam mengejar serta mencapai tujuan-tujuannya, misalnya setiap orang dapat menjadi hakim apabila memenuhi persyaratan-persyaratan yang meliputi telah menempuh beberapa pendidikan tertentu, syarat-syarat kepegawaian, dsb (Soekanto, 1987).

Peranan merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan atau status. Apabila sesorang melaksanakan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peranan. Pembedaan antara kedudukan dari peranan adalah untuk kepentingan ilmu pengetahuan, keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan, karena satu dengan yang lain saling bergantung dan tak ada peranan tanpa kedudukan atau kedudukan tanpa peranan (Soekanto, 1982). Tiga hal yang mencakup suatu peranan adalah : Pertama, peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi-posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Kedua, peranan adalah suatu konsep perihal apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi. Ketiga, peranan dapat dikatakan sebagi perilaku individu yang penting bagi struktur masyarakat (Levinson (1964) dalam Soekanto (1987)).

2.2 Kerangka Pemikiran

Kriteria Pembentukan Kedudukan Sosial

–          Kekayaan

–          Kekuasaan dan wewenang

–          Kehormatan

–          Pendidikan

Kedudukan Sosial

–          Achieved Status

–          Ascribed Status

Peranan Dalam

Kedudukan Sosial

–          Norma-norma

–          Individu dalam organisasi

–          Individu bagi struktur masyarakat

STRUKTUR MASYARAKAT

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1       Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang kami lakukan adalah penelitian kualitatf dengan mengunakan metode wawancara terhadap orang-orang yang dianggap memilki informasi mengenai objek penelitian.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Desa Karehkel, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Penelitian ini berlangsung pada tanggal 18-20 Desember 2009.

3.3       Tenik Pengumpulan Data

Data yang digunakan adalah data primer dan data sekuder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan informan di RW 04 dan RW 10, yang kami temui dengan menggunakan panduan pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Data sekunder diperoleh dari studi pustaka mengenai teori-teori yang berkaitan dengan tema.

Wawancara yang dilakukan menggunakan panduan pertanyaan yang telah dipesiapkan sebelumnya (ada pula yang spontan). Panduan pertanyaan tersebut telah mewakili alat analisis yang kami gunakan dengan mengimplementasikan ke dalam bentuk pertanyaan yang mudah dimengerti oleh para informan.

3.4       Teknik Analisis Data

Data diperoleh dari hasil wawancara kami dengan para informan di RW 04 dan RW 10, hasil pengamatan, atau kutipan dari berbagai dokumen yang kami analisis sejak pertama kali ke lapangan sampai penelitian berakhir. Kemudian setelah data terkumpul dilakukan suatu proses pemilihan, pemusatan, serta penyederhanaan data kasar untuk dibuat kesimpulan berdasarkan sub tema yang kami angkat. Dengan proses tersebut diharapkan akan menghasilkan suatu outline laporan akhir yang dapat memudahkan peneliti untuk menyelesaikan laporan hasil penelitian secara terstruktur.

BAB IV

GAMBARAN UMUM DESA

4.1       Keterangan Umum

Desa Karehkel merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Desa ini terdiri dari 13 RW, 36 RT, dan 4 dusun dengan luas daerah ± 520 hektar. Tanah di Desa Karehkel lebih didominasi oleh tanah kering dan persawahan. Karena kondisi tanah yang kering maka wilayah di desa Karehkel lebih cocok ditanami tanaman bayam dan kangkung.

Desa ini dinamakan Desa Karehkel karena pada zaman dahulu ditemukan seekor ikan yang bernama “Kehkel” ketika orang-orang sedang memancing. Selain itu, desa ini memiliki empat Kelompok Tani, diantaranya : Mitra Tani, Sugih Tani, Barokah Tani, dan Pandan Wangi. Akan tetapi dari keempat Kelompok Tani tersebut yang masih aktif adalah Kelompok Sugih Tani.

PETA DESA KAREHKEL

Sumber: Laporan KADES Karehkel 2009

Gambar 1. Peta Desa Karehkel

Keterangan dari Peta Desa Karehkel :

Sumber: Laporan KADES Karehkel 2009

Gambar 2. Peta Dua Kampung yang Diamati (RW 4 dan RW 10)

4.2       Mata Pencaharian Desa

Sebagian besar masyarakat Desa Karehkel bekerja sebagai petani. Profesi petani tersebut terdiri atas petani lahan dan petani tak berlahan. Hal ini terbukti dari banyaknya lahan pertanian yang ada di Desa Karehkel. Selain petani, mata pencaharian di Desa Karehkel terdiri dari PNS, Pedagang, dan Supir Angkot (Odong-odong). Untuk lebih jelasnya persentase mata pencaharian penduduk Desa Karehkel dapat dilihat pada diagram di bawah ini

Sumber : Laporan KADES Karehkel 2009

Gambar 3. Persentase Mata Pencaharian Penduduk Desa Karehkel

Tahun 2009

Dari diagram diatas, terdapat pola hubungan antara petani berlahan dengan petani tak berlahan. Prtani yang tidak memiliki lahan menjadi penggarap pada petani yang memiliki lahan. Hal ini dapat dibuktikan di lapangan berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu warga yang bernama Ibu Emang. Jadi, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan patron-client antara petani berlahan dengan petani tak berlahan.

4.3       Kelembagaan Pertanian Desa

Masyarakat di Desa Karehkel awalnya menggunakan pertanian konvensional yaitu pertanian sayuran dan padi non organik. Kedatangan Mr. Hwang dari Taiwan untuk melakukan penelitian tanah di Desa Karehkel, telah memberikan suatu perubahan baru pada sistem pertanian di desa tersebut. Disamping melakukan penelitian, beliau juga menawarkan suatu inovasi unuk perbaikan sistem pertanian, yaitu perubahan dari sistem pertanian konvensional menjadi sistem pertanian organik. Namun, hal ini lebih dikhususkan untuk pertanian sayuran. Informasi disampaikan kepada GAPOKTAN (Gabungan Kelompok Tani), yang selanjutnya GAPOKTAN menyebarkan informasi ini kepada kelompok tani di desa tersebut.

4.4       Lembaga-Lembaga Masyarakat yang Ada di Desa

Tabel 4.4.1 Kelembagaan Desa

No Data Kelembagaan Jumlah Penduduk
Perempuan Laki-laki
1 Majelis Ta’lim 350 orang 70 orang
2 PKK 100 orang 50 orang
3 Karang Taruna 5 orang 10 orang

Sumber : Laporan Kepala Desa Karehkel, 2009

Berdasarkan data diatas, kita dapat melihat bahwa kelembagaan Majelis Ta’lim merupakan lembaga yang paling aktif dalam melaksanakan kegiatan di Desa Karehkel. Kegiatan tersebut berupa pengajian, yang dilaksanakan setiap satu minggu sekali. Sementara itu kegiatan yang dilakukan oleh PKK tidak dilaksanakan secara rutin, melainkan hanya pada saat-saat tertentu saja. Kegiatan yang dilaksanakan PKK berupa pengajian, koperasi, kelestarian lingkungan hidup dan bina kesehatan. Sedangkan, untuk kegiatan yang dilakukan oleh karang taruna kurang aktif pelaksanaannya.

4.4 Sarana dan Prasarana

Dari segi sarana dan prasarana, Desa Karehkel sudah tergolong cukup baik. Terlihat dari banyak sarana kesehatan yang terdiri dari Puskesmas Pembantu dan Puskesdes. Puskesmas pembantu dibangun oleh pemerintah, dan buka atau memmberikan pelayanan setiap hari, sedangkan Puskesdes dibangun oleh pihak swasta dan buka atau memberikan pelayanan pada hari sabtu. Disamping itu, terdapat sarana transportasi yang terdiri dari angkot (± 70 unit) dan ojek (± 30 unit). Untuk prasarana pendidikan, desa ini memiliki satu bangunan Sekolah Dasar (SD) dan dua bangunan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Di Desa Karehkel juga terdapat Koperasi, yaitu Koperasi Pandan Wangi. Koperasi ini lebih banyak beranggotakan perempuan dibandingkan laki-laki.

BAB V

PEMBAHASAN

5.1       Stratifikasi Sosial yang Terbentuk di Desa Karehkel

Mengacu pada pendapat Pitirim A. Sorokin (1959) dalam Soekanto (1987) stratifikasi sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hierarkis). Soekanto (1987) menyatakan bahwa kriteria pembentukan kedudukan sosial diantaranya kekayaan, kekuasaan, kehormatan, dan pendidikan. Kami meninjau bahwa stratifikasi sosial yang terbentuk di desa Karehkel RW 04 dan RW 10 terdiri dari tiga lapisan, yaitu lapisan bawah, lapisan menengah, dan lapisan atas. Berdasarkan hasil turun lapang kali ini, kami menggunakan ukuran kekuasaan sebagai kriteria pembentukan kedudukan sosial untuk ketiga lapisan tersebut.

Untuk memudahkan klasifikasi masyarakat ke dalam lapisan atas, tengah dan bawah, berikut penjelasan dari masing – masing lapisan di Desa Karehkel :

  1. Lapisan atas merupakan anggota masyarakat yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi masyarakat di Desa Karehkel. Di Desa Karehkel orang yang dianggap mempunyai kekuasaan adalah Bapak Yunus (RW 04) dan Bapak Saefudin (RW 10). Hal ini dibuktikan dari hasil turun lapang berdasarkan wawancara dengan beberapa warga di Desa Karehkel. Menurut penuturan beberapa warga, seperti Ibu Emang, Doni, Ibu Samin, Ibu Ratna, Ibu Rina, Pak Sholeh, dll. Mereka sama-sama menyebutkan bahwa orang yang berpengaruh dan disegani di desa tersebut adalah Bapak Yunus di RW 04 dan Bapak Syaifudin di RW 10. Kedua orang tersebut mempunyai kesamaan  profesi yang bergerak dalam bidang keagamaan. Mereka dinilai mempunyai kekuasaan karena perkataan dan pendapat mereka yang mengacu kepada Al-Qur’an dan Hadits selalu didengar oleh warga. Selain itu, mereka juga ikut berperan dalam pengambilan keputusan suatu masalah yang terjadi di desa tersebut.
  2. Lapisan menengah merupakan anggota masyarakat yang mempunyai posisi sebagai ketua kelompok tani yang bernama Bapak Sholeh (Ketua Kelompok Sugih Tani). Hal ini dibuktikan dari hasil kunjungan dan wawancara kami secara langsung kepada Bapak Sholeh. Dari hasil wawancara, terlihat bahwa beliau memiliki akses informasi langsung terhadap pihak luar yaitu Mr. Huang dari Taiwan tentang sistem pertanian organik. Oleh karaena itu, beliau mempunyai kekuasaan dalam membina anggota kelompoknya. Selanjutnya, anggota kelompok tersebut akan menyebarkan informasi tentang penyuluhan kepada buruh tani.
  3. Lapisan bawah merupakan anggota masyarakat yang berprofesi sebagai buruh tani. Mereka tidak memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan secara langsung. Selain itu mereka tidak memiliki sumber daya yang cukup dan tidak mau menerapkan inovasi. Adapun alas an mereka tidak mau menerapkan inovasi pertanian organik karena sistem pertanian ini membutuhlkan modal yang sangat besar untuk pembelian net, perawatan yang sulit dan resiko kerugian yang ckup tinggi apabila mengalami gagal panen.

Berdsarkan penjelasan diatas dapat diilustrasikan melalui tabel di bawah ini :

Tabel 5.1.1 Stratifikasi Sosial di Desa Karehkel

No Kelas Masyarakat Kelompok Masyarakat yang Menempati Temuan Lapang Terkait Aspek Pembentuk
1 Atas Tokoh agama Jawaban dari masyarakat (Ibu Emang, Ibu Rina, Bapak Samin, Bapak Jendi,dll) Kekuasaan
2 Menengah Ketua kelompok tani Berdasarkan hasil wawancara langsung dengan pihak yang bersangkutan (Bapak Soleh) Kepemilikan informasi dan lahan
3 Bawah Petani dan buruh tani Kunjungan dan wawancara langsung Tidak memiliki sumber daya dan akses informasi

Menurut Mac. Iver dalam Soekanto (1987) terdapat tiga pola umum dari sistem lapisan-lapisan kekuasaan yaitu: tipe kasta, tipe oligarkis, dan tipe demokratis. Berdasarkan ukuran kekuasaan dari tiga lapisan diatas, maka pola sistem lapisan kekuasaan yang terbentuk di Desa Karehkel adalah tipe demokratis. Tipe ini menunjukkan kenyataan-kenyataan akan adanya garis-garis pemisah antara lapisan yang bersifat mobile sekali. Tipe demokratis ditentukan dari kemampuan dan keberuntungan seseorang yang berkuasa. Kedudukan yang dimiliki oleh penguasa dari masing-masing lapisan bukan berasal dari kelahiran, tetapi diperoleh berdasarkan usaha mereka sendiri, misalnya tokoh agama yang menduduki lapisan atas di desa tersebut memperoleh jabatan sebagai Ketua MUI karena ilmu yang didapatkan selama bersekolah di pesantren.

5.2 Dampak yang Terjadi Akibat Adanya Stratifikasi Sosial di Desa Karehkel

Stratifikasi yang terdapat pada Desa Karehkel menyebabkan adanya ketimpangan sosial diantara masing-masing lapisan. Hal ini terjadi karena penyebaran informasi mengenai inovasi tentang penerapan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan kurang merata. Lapisan atas yang merupakan pemuka agama tidak memiliki andil dalam menyampaikan informasi mengenai pertanian, karena lapisan ini tidak mempunyai kepentingan terhadap bidang pertanian. Sedangkan, lapisan tengah yang mendapat informasi tentang sistem pertanian berkelanjutan (sistem pertanian organik) dari pihak swasta, hanya menyebarkan ke sebagian wilayah Desa Karehkel. Namun, lapisan bawah yang mendapatkan informasi tersebut tetap menggunakan sistem pertanian konvensial dan tidak melakukan perubahan terhadap sistem pertaniannya. Akhirnya, mereka pun berusaha sendiri untuk memajukan dan mensejahterakan kehidupannya.

5.3 Peran Setiap Lapisan dalam Mengatasi Permasalahan Lapisan Bawah

Di Desa Karehkel terdapat berbagai lapisan masyarakat. Ditinjau dari indikator kekuasaan menurut Pitirim A. Sorokin (1959), kami melihat Desa Karehkel terdiri dari tiga lapisan yaitu lapisan bawah, menengah, dan atas. Kami menggunakan indikator kekuasaan karena indikator tersebut sangat terlihat jelas jika dibandingkan dengan indikator kekayaan, pendidikan dan kehormatan.

Lapisan atas terdiri dari tokoh agama yang disegani oleh masyarakat setempat karena memiliki pengetahuan agama yang kebenarannya sudah dapat dipastikan, sehingga apa pun yang diinformasikan oleh tokoh agama tersebut selalu dipercaya oleh masyarakat. Lapisan menengah terdiri dari ketua kelompok tani kerena ketua kelompok tani memiliki kekuasaan memberitahu dan mempengaruhi anggota kelompoknya dalam pengambilan keputusan pada saat adopsi inovasi berlangsung. Lapisan bawah terdiri dari lapisan petani mandiri dan buruh tani kerena mereka tidak memiliki kekuasaan untuk membuat suatu keputusan adopsi inovasi tetapi mereka hanya dapat menyampaikan pendapat mereka mengenai inovasi tersebut.

Diantara ketiga lapisan tersebut permasalahan yang sering muncul terjadi pada lapisan bawah, yaitu tidak adanya hak atas kepemilikan lahan. Disamping itu lapisan atas tidak berkontribusi atas kesejahteraan petani. Mereka tidak menyokong kehidupan petani, terutama dalam ekonomi. Mereka hanya bertindak sebagai pemberi saran atas penyelesaian masalah tanpa turun langsung menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh para petani. Sedangkan lapisan menengah yang terdiri dari ketua kelompok tani hanya berkontribusi memberikan informasi dan melaksanakan pembinaan pertanian organik untuk petani mandiri dan buruh tani di desa tersebut. Lapisan menengah mendapat pendidikan tentang pertanian organik dari pihak swasta yang bekerja sama dengan IPB. Namun, petani di Desa Karehkel tidak dengan mudah menerima inovasi, karena mereka menganggap pertanian organik mahal dalam segi pelaksanaannya. Kebanyakan dari mereka tetap bertani sayuran non-organik dan padi non-organik yang tidak baik untuk kesehatan. Jadi, lapisan bawah menyelesaikan permasalahan mereka dengan usaha sendiri. Segala keputusan mengenai informasi yang didapat guna meningkatkan taraf hidupnya berada di tangan mereka sendiri.

BAB VI

PENUTUP

6.1       Kesimpulan

Masyarakat Desa Karehkel terdiri dari tiga lapisan masyarakat, yaitu lapisan atas, lapisan menengah dan lapisan bawah. Pendekatan yang dilakukan dalam kegiatan turun lapang kali ini adalah pendekatan objektif dengan menggunakan variabel kekuasaan sebagai tolak ukur untuk menentukan lapisan masyarakat. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa anggota masyarakat yang termasuk golongan atas adalah tokoh masyarakat (pemuka agama), sedangkan golongan menengah adalah ketua kelompok tani. Sementara itu, golongan bawah adalah buruh tani.

Adapun sistem stratifikasi lapisan masyarakat di Desa Karehkel bersifat terbuka atau disebut Achieved Status. Oleh karena itu tipe masyarakat di desa tersebut dikategorikan kedalam Tipe Demokratis. Peranan antar lapisan mengindikasikan adanya ketimpangan sosial. Hal ini disebabkan kurangnya kontribusi dari lapisan atas maupun lapisan menengah terhadap lapisan bawah. Lapisan atas tidak terlibat dalam membantu permasalahan di bidang ekonomi petani. Adapun lapisan menengah hanya berkontribusi dalam memberikan informasi mengenai inovasi pertanian kepada lapisan bawah.

6.2       Saran

Desa Karehkel merupakan daerah yang potensial untuk mengembangkan sumberdaya di bidang pertanian. Kesempatan ini harus dimanfaatkan oleh para petani, terutama kelompok tani yang sudah terbentuk untuk meningkatkan keterampilan dan hasil produksi pertanian. Di samping itu, buruh tani sebaiknya dapat memanfaatkan informasi yang didapatkan dari kelompok tani yang sudah memiliki pengetahuan yang cukup dalam bidang pertanian.. Hal ini dikarenakan kontribusi dari pihak luar (Taiwan dan IPB) sudah baik dalam memberikan bimbingan kepada kelompok tani di Desa Karehkel.

DAFTAR PUSTAKA

Iver Mac. 1954.  “The Web of Governmentdalam Sosiologi Suatu Pengantar,

Editor : Soerjono Soekanto, Rajawali Pers : Jakarta

Levinson. 1964. “Role, Personality, and Social Structuredalam Sosiologi Suatu Pengantar, Editor : Soerjono Soekanto, Rajawali Pers : Jakarta

Roucek S. Joseph, Warren. 1962. “Sociology, an Introductiondalam Sosiologi Suatu Pengantar, Editor : Soerjono Soekanto, Rajawali Pers : Jakarta

Soekanto Soerjono. 1987. Sosiologi Suatu Pengantar. Rajawali Pers : Jakarta

Sorokin Pitirim. A. 1959. “Social and Cultural Mobilitydalam Sosiologi Suatu Pengantar, Editor : Soerjono Soekanto, Rajawali Pers : Jakarta

LAMPIRAN

EVALUASI

TURUN LAPANG DI DESA KAREHKEL KECAMATAN LEUWI LIANG

KABUPATEN BOGOR

Hari Pertama

Pada tanggal 18 Desember 2009 kelompok kami melakukan turun lapang di Desa Karehkel, Kecamatan Leuwi Liang Kabupaten Bogor. Kemudian kami berkumpul untuk merencanakan kegiatan turun lapang di desa tersebut. Pada hari pertama, sesampainya di Desa karehkel kami bersilaturahmi dengan tuan rumah. Setelah itu kami langsung pergi meminta izin kepada pihak keamanan setempat, ketua RT, ketua Rw, dan Kepala Desa Karehkel untuk meminta izin melakukan kegiatan turun lapang selama tiga hari. Setibanya dirumah Kepala Desa, kami bersilaturahmi dan melakukan wawancara guna mencari informasi mengenai tema yang akan kelompok kami bahas mengenai Peranan Stratifikasi di Desa Karehkel.

Setelah mendapatkan informasi dari Kepala Desa yang mengatakan bahwa di Desa Karehkel terdiri dari  13 RW dan 36 RT, kami memutuskan untuk melakukan kegiatan turun lapang hanya di 2 RW yaitu RW 04 dan RW 10. Hal ini dikarenakan di kedua RW tersebut terdapat perbedaan yang signifikan mengenai stratifikasi masyarakat di desa tersebut. Dalam kelompok kami terdiri dari 10 orang. Untuk lebih efisien dalam mencari informasi, kami membagi kelompok besar menjadi dua kelompok kecil. Kelompok pertama mencari informasi di RW 10, sedangkan kelompok kedua mencari informasi di RW 4. Berdasarkan penelitian yang kami lakukan di RW 4, kami mewawancari 7 informan. Dari perbincangan sementara dengan salah satu informan yang bernama Ibu Emang, kami mendapatkan informasi terkait dengan masyarakat di RW 4 Desa Karehkel diantaranya ialah pada dasarnya masyarakat RW 4 bermata pencaharian sebagai petani. Namun ada juga sebagian kecil masyarakat disana berprofesi sebagai pedagang. Para petani di RW 4 berdiri diatas kakinya sendiri, sebab mereka tidak mendapatkan bantuan baik dari pemerintah, pihak luar desa, maupun warga RW 4 yang notabene sudah berkecukupan.

Berdasarkan hasil survey terhadap warga sekitar, mereka menyebutkan orang yang disegani di RW 4 adalah Bapak Yunus. Sedangkan orang yang seharusnya mendapatkan bantuan aadalah keluarga Ibu Wati. Sehingga kami dapat menarik kesimpulan sementara bahwa pedagang dan petani yang mempunyai lahan sendiri masuk ke dalam lapisan menengah, sedangkan buruh tani masuk ke dalam lahan sendiri. Sementara penelitian yang dilakukan di RW 10, kami mewancarai dua informan secara mendalam. Didapatkan informasi bahwa masyarakat di RW 10 sangat beragam dalam hal mata pencahariannya. Diantaranya petani penggarap, buruh tani, pedagang, dan PNS. Selain itu muncul nama Bapak Saefudin (ketua MUI) sebagai orang yang disegani, dikarenakan masyarakat RW 10 menganggap perkataan beliau itu dapat dipercaya. Informan kedua yang kami wawancarai adalah Bapak Soleh. Beliau mengungkapkan adanya empat kelompok tani yang salah satunya adalah Sugih Tani yang diketuai Bapak Soleh sendiri. Dari penjelasan beliau didapatkan informasi bahwa kelompok tani tersebut mendapatkan pembinaan dari pihak pemerintah dan pihak swasta. Dari kedua pihak tersebut, pihak swasta yang memiliki peranan lebih besar dalam membantu para petani untuk mengembangkan pertanian organik. Selain itu, menurut Bapak Sholeh orang yang paling disegani di RW 10 yaitu Bapak Syaifudin. Jika seseorang yang memiliki kedudukan sosial yang tinggi di desa tersebut melakukan kesalahan akan dikenakan sanksi yakni diacuhkan oleh masyarakat. Berdasarkan hasil evaluasi hari pertama, kami menyimpulkan bahwa data yang kami dapatkan sudah mencapai 60%.

Hari Kedua

Pada tanggal 19 Desember 2009, kami kembali melakukan wawancara untuk melengkapi data yang telah didapatkan pada hari sebelumnya. Kami pun membagi kelompok kami menjadi dua. Kelompok pertama mengunjungi kantor kepala desa untuk mendapatkan peta dan data tentang kependudukan, akan tetapi data kependudukan tidak kami dapatkan dikarenakan orang yang mengurusi data kependudukan tidak berada di desa tersebut. Kelompok kedua mewawancarai dua informan di RW 4 dan didapatkan hasil bahwa orang yang paling disegani di RW 4 adalah Bapak Yunus. Informan tersebut menjelaskan bahwa petani di RW 4 hanya mengontrak lahan pada seorang pengusaha kaya. Mereka tidak mendapatkan bantuan dari pihak luar, tetapi mereka hanya diberi janji suatu program namun kenyataannya tidak dapat terealisasi. Selain dua informan itu, selanjutnya Selain dua informan tersebut kelompok dua mewawancarai Pak Samin. Hampir seluruh hasil wawancara yang didapat memiliki kesamaan dengan dua responden sebelumnya. Dari Bapak Yunus yang disegani, para petani yang menggarap lahannya sendiri dan tidak mendapatkan bantuan dari pihak luar, membeli pupuk di pasar, serta hasil pertaniannya cenderung dikonsumsi sendiri. Para petani di RW 4 masih menanam padi dengan menggunakan pupuk urea dan TSP. Berdasarkan data hari pertama dan kedua dapat kami simpulkan bahwa data yang telah kami dapatkan telah terkumpul 100% .

Hari Ketiga

Pada tanggal 20 Desember 2009 kami tidak melakukan wawancara, tetapi kami melakukan evaluasi akhir. Berdasarkan evaluasi akhir tersebut kami dapat menyimpulkan bahwa kekuasaan adalah sebagai indikator mengenai lapisan pada masyarakat di desa Karehkel. Lapisan atas adalah tokoh agama, lapisan kedua adalah ketua kelompok tani yang berinteraksi dengan pihak luar dan telah menerapkan sistem pertanian konvensional menjadi pertanian organik, dan lapisan bawah adalah buruh tani. Kesimpulan akhir yang kami dapatkan yaitu lapisan atas tidak berkontribusi dalam mensejahterakan kehidupan petani namun hanya terlibat dalam perizinan untuk pendidikan organik farming. Pada lapisan tengah mendapat bantuan dari pihak swasta dan mereka menyebarkan kepada lapisan bawah. Sedangkan lapisan bawah kurang maju dalam bidang pertanian karena tidak mendapat bantuan dari lapisan atas dan tidak mau menerima inovasi dari lapisan tengah.

LAMPIRAN

RENCANA KEGIATAN

Rencana Kegiatan Turun Lapang Sosiologi Pedesaan

No Kegiatan 18 Desember 2009 19 Desember 2009 20 Desember 2009
1. Persiapan Pemberangkatan ke Desa
2. Breafing
3. Survei lokasi
4. Perkenalan dengan warga sekitar
5. Kunjungan ke Kepala Desa
6. Wawancara kepada tokoh-tokoh masyarakat
7. Wawancara beberapa warga
8. Melengkapi informasi yang belum lengkap
9. Berpamitan dengan warga
10. Persiapan pulang ke kampus
11. Evaluasi

Keterangan : tabel yang diarsir adalah kegiatan yang akan kami lakukan.

LAMPIRAN

Data Primer Profil Sosial-Ekonomi

Rumah Tangga yang Ditempati Mahasiswa Saat Turun Lapang

File : Profil Rumah Tangga
Tanggal : 19 Desember 2009
Desa : Karehkel
Kecamatan : Leuwiliang
Kabupaten : Bogor
Provinsi : Jawa Barat
Mata Kuliah/TA : Sosiologi Pedesaan/2009-2010
Kelompok : 2
Anggota Kelompok : 1. Nursyarifah                     (I34080013)

2. Fami Rahmania Firdaus (I34080026)

3. Selvia Rabiia Zahrah      (I34080029)

4. Pradiana Feberia             (I34080031)

5. Mareta Tede                    (I34080033)

6. Rizki Mila Amalia          (I34080070)

7. Aldilla Adelia                 (I34080072)

8. Siti Aulia Andhini          (134080100)

9. Putri Ekasari                   (I34080101)

10. Adinda Ade Mustami  (I34080106)

  1. I. KARAKTERISTIK UMUM RUMAH TANGGA
  2. Nama Kepala Kel.       : Pak Samin
  3. Jum. Ang. Keluarga     : –  Ibu Omah……………………(Isteri)                                                                                     –  Een……………………(Anak/L-                                                                                        ………………………..(Anak/L-P)

…………………………(Anak/L-P)

Orang lain, sebutkan

Cucu dari Pak Samin dan Ibu Omah Rianti, Rianto,                                                                Riawan, Syifa

  1. Pekerjaan                     : Pedagang dan petani perorangan
  2. Lama tinggal di desa    : 57 tahun
  3. Generasi ke-                : 4
  1. II. KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA
  2. Ilustrasikan kondisi rumah yang anda tinggali?
Rumah ini berukuran tipe 72 dengan tiga kamar, satu ruang tamu, satu ruang televisi, dan berlantai dua. Alat untuk memasak di rumah ini masih menggunakan kompor tungku. Untuk mencuci piring, Ibu Omah harus melakukannya di luar rumah dengan menggunakan serabut kelapa. Disekitar rumah ini terdapat banyak sampah dan saluran airnya masih kurang lancar. Rumah ini hanya terletak beberapa meter dari jalan. Jarak antara rumah ini dengan rumah lainnya hanya dibatasi oleh kebun.

Rumah

  1. Apa saja aset yang dimiliki oleh RT yang anda tinggali:

L Lahan sawah, seluas? 5 petak

Lahan kebun, seluas?

Lahan pekarangan, seluas?

Rumah, bentuk rumah? Tipe 72

Televisi, berapa inchi? 14 inchi

Radio, jenis radio?

Motor, jenis dan jumlah?

Mobil, jenis dan jumlah

  1. Berapa pendapatan sebulan KK yang anda tinggali? Rp 1.000.000/bulan.  Darimana saja sumber pendapatan yang diperoleh tersebut?
Dari hasil bertani (menanam padi) dan berdagang di pasar, serta hasil kontrakan rumah.
  1. Dari setiap tahunnya, bulan kapan bapak memperoleh pendapatan yang lebih dari biasanya?……………………….Apa saja yang bapak/ibu makan saat itu?
Ketika Panen. Biasanya makan ayam dan ikan bandeng.
  1. Kemudian bulan kapan bapak merasakan masa paceklik?…………………………Apa saja yang bapak/ibu makan saat itu?
Bulan Desember 2009, karena padinya belum siap dipanen.

Makan seadanya, yaitu makan ikan asin, telur, dan mie.

  1. Saat masa paceklik, apa langkah yang bapak/ibu lakukan untuk memenuhi kebutuhan primer keluarga?
Tidak ada langkah-langkah khusus yang dilakukan, hanya berusaha untuk tetap memenuhi kebutuhan keluarga dengan seadanya.

LAMPIRAN

PETA KELEMBAGAAN DESA KAREHKEL

  • Besarnya lingkaran mencerminkan pentingnya lembaga menurut masyarakat (peserta diskusi).
  • Besarnya simbol pria atau wanita mencerminkan persentase banyaknya pria dan wanita di Desa Karehkel.

LAMPIRAN

EVALUASI LOKAKARYA SOSIOLOGI PEDESAAN

Pertanyaan dari Pak Iqbal (Asisten Sosiologi Pedesaan)

  1. Apa hubungan ilmu agama yang dimiliki oleh tokoh agama dengan  kekuasaan sebagai aspek pembentuk tokoh agama di lapisan atas?
  2. Mengapa birokrat (Pamong Desa, RT, RW dan Kepala Dusun) tidak termasuk kedalam lapisan atas?

Jawaban

  1. Jika dilihat dari arti kekuasaan itu sendiri, maka kekuasaan merupakan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain. Tokoh agama di desa ini berpengaruh paling besar daripada ketua Kelompok Tani dan buruh tani. Pengaruh yang dimiliki tokoh agama didasarkan pada kepercayaan para warga desa terhadap tokoh agama untuk menyelesaikan masalah yang warga hadapi. Kepemilikan tokoh agama terhadap ilmu agama menyebabkan kepercayaan masyarakat semakin kuat karena pendapat mereka tidak dapat dibantah. Hal ini disebabkan pendapat mereka didasarkan atas Al-Qur’an dan Hadist.
  2. Berdasarkan hasil turun lapang dan data yang kami temukan dari para responden, para birokrat tidak termasuk ke dalam lapisan atas karena mereka hanya memilki wewenang dalam mengatur administrasi desa, namun mereka tidak memiliki kekuasaan untuk mempengaruhi warga desa lainnya.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan ekonomi merupakan proses perubahan dari suatu tipe perekonomian menjadi tipe lain yang lebih maju (Hirschman,1970). Sedangkan menurut Meier dan Baldwin (1964), pembangunan ekonomi adalah suatu proses, dengan proses dimana pendapatan nasional riel suatu perekonomian bertambah selama suatu periode waktu yang panjang. Berdasarkan pengertian dari kedua tokoh tersebut, pembangunan dikatakan sebagai sebuah proses karena pembangunan bukanlah suatu kegiatan yang momentum atau perbuatan yang selesai hanya dalam satu kali dalam suatu saat, melainkan pembangunan merupakan suatu kegiatan yang terus-menerus.

Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan ekonomi, manusia, sosial budaya, dan politik di Indonesia, untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil, dan makmur. Dalam melaksanakan pembangunan nasional, perluasan lapangan kerja dan peningkatan kualitas tenaga kerja mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan tujuan pembangunan. Upaya perluasan lapangan kerja di dalam suatu negara dilakukan karena meningkatnya penawaran terhadap jumlah tenaga kerja sehingga mereka dapat disalurkan ke lapangan-lapangan yang tersedia agar tenaga kerja yang berlebihan tersebut semakin produktif. Keterkaitan jumlah tenaga kerja yang berlebihan tersebut,disebabkan adanya pertumbuhan penduduk yang cepat seperti yang dialami di negara-negara berkembang.

Menurut Smith (2006), proses pembangunan pada suatu masyarakat, paling tidak harus memiliki tiga tujuan inti pembangunan, yaitu: (1) Peningkatan ketersediaan serta perluasan distribusi berbagai barang kebutuhan hidup yang pokok, seperti sandang, pangan dan papan. (2) Peningkatan standar hidup yang mencakup peningkatan pendapatan, penambahan penyediaan lapangan kerja, perbaikan kualitas pendidikan, serta peningkatan perhatian atas nilai-nilai kultural dan kemanusiaan. (3) Perluasaan pilihan-pilihan ekonomis dan sosial bagi setiap individu dalam suatu negara, yakni dengan membebaskan mereka dari belitan sikap menghamba dan ketergantungan terhadap negara lain.

Tiga tujuan inti pembangunan yang harus dimiliki oleh suatu negara dalam proses pembangunan belum dapat terpenuhi di negara-negara berkembang. Hal ini dikarenakan adanya permasalahan yang banyak dihadapi oleh negara-negara berkembang saat ini, seperti Indonesia, diantaranya adalah Pertama, mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian dibandingkan dengan yang bekerja di sektor industri karena mengalami kekurangan modal, teknik, dan kekurangan keahlian managerial. Kedua, memiliki sumber-sumber alam yang melimpah namun belum diolah dan dimanfaatkan secara maksimal sehingga masih bersifat potensial karena kekurangan modal dan tenaga ahli. Ketiga, mayoritas penduduknya masih terbelakang yang dapat diketahui dari kualitas penduduk sebagai faktor produksi tergolong rendah sehingga efisiensi tenaga kerjanya pun rendah.

Masalah tenaga kerja hingga saat ini masih merupakan salah satu masalah nasional yang cukup berat dan komplek. Rendahnya tingkat pendidikan dan lemahnya perlindungan atau kesejahteraan akan mempengaruhi kualitas tenaga kerja. Dari uraian tersebut penulis ingin mengetahui solusi apa saja yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam pembangunan.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah yang dirumuskan yaitu :

  1. Bagaimana keadaan tenaga kerja di negara-negara berkembang?
  2. Bagaimana solusi dalam melaksanakan pembangunan ekonomi di negara-negara berkembang?

1.3 Tujuan Penulisan

Berdasarkan perumusan masalah tersebut,tujuan dari penulisan ini yaitu:

  1. Mengetahui keadaan tenaga kerja di negara-negara berkembang.
  2. Mengetahui solusi dalam melaksanakan pembangunan ekonomi di negara-negara berkembang.

1.4 Manfaat Penulisan

  1. Bagi kalangan akedemis, makalah ini diharapkan dapat dijadikan referensi yang dapat membantu memahami perluasan lapangan kerja sebagai salah satu solusi pembangunan ekonomi.
  2. Bagi pemerintah, makalah ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk melakukan pembangunan yang berkelanjutan yang dapat dirasakan oleh semua pihak.
  3. Bagi masyarakat umum, makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai keadaan tenaga kerja dan solusi pembangunan ekonomi di negara-negara berkembang.

BAB II

LANDASAN TEORI

Pembangunan secara tradisional diartikan sebagai kapasitas dari sebuah perekonomian nasional yang kondisi ekonomi awalnya kurang lebih bersifat statis dalam kurun waktu yang cukup lama untuk menciptakan, mempertahankan kenaikan pendapatan nasional bruto atau GNI (gross national income) (Smith, 2006). Menurut Amartya Sen (1998) dalam Smith (2006), pembangunan harus dipandang sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap masyarakat dan institusi-institusi nasional disamping tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan serta pengentasan kemiskinan sehingga pada hakikatnya pembangunan itu, harus mencerminkan perubahan total suatu masyarakat atau penyesuaian sistem sosial secara keseluruhan tanpa mengabaikan keragaman kebutuhan dasr dan keinginan individual maupun kelompok untuk bergerak maju menuju suatu kondisi kehidupan yang serba lebih baik secara material maupun spiritual.

Pembangunan ekonomi merupakan proses perubahan dari suatu tipe perekonomian menjadi tipe lain yang lebih maju (Hirschman,1970). Sedangkan menurut Meier dan Baldwin (1964), pembangunan ekonomi adalah suatu proses, dengan proses dimana pendapatan nasional riel suatu perekonomian bertambah selama suatu periode waktu yang panjang. Kadang-kadang istilah pembangunan ekonomi sering disamakan dengan modernisasi, westernisasi, serta industrialisasi (Sitohang,1970).

Faktor-faktor yang dapat menghambat pembangunan ekonomi, diantaranya adalah (1) pertumbuhan penduduk yang cepat, (2) sumberdaya alam yang tidak memadai, (3) pemanfaatan sumberdaya yang tidak efisien, (4) sumberdaya manusia yang tidak memadai (Lipsey, dkk, 1990). Konsekuensi dari adanya faktor-faktor penghambat pembangunan ekonomi menurut Lipsey (1990) dapat menyebabkan adanya pengangguran di suatu negara. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, yaitu: (1) tanah dan kekayaan alam lainnya, (2) jumlah dan mutu dari penduduk dan tenaga kerja, (3) barang-barang modal dan tingkat teknologi, (4) sistem sosial dan sikap masyarakat (Sukirno,1981).

Menurut Undang-undang No.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, ditentukan bahwa yang dimaksud dengan ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama dan sesudah masa kerja. Sukirno (1981) menyatakan bahwa masalah tenaga kerja merupakan salah satu masalah nasional yang cukup berat dan komplek. Rendahnya tingkat pendidikan dan lemahnya perlindungan atau kesejahteraan masyarakat di suatu negara akan mempengaruhi kualitas tenaga kerja. Tenaga kerja yang berkualitas merupakan modal yang sangat berharga bagi pertumbuhan ekonomi.

Menurut Smith (2006) terdapat hubungan antara kesempatan kerja dan permintaan pendidikan yakni dari sisi permintaan ada dua hal yang berpengaruh terhadap jumlah atau tingkat pendidikan yang diinginkan diantaranya harapan bagi seseorang seseorang yang lebih terdidik untuk mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik.

BAB III

METODE PENULISAN

3.1 Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder diperoleh dari publikasi data statistika dan studi pustaka mengenai teori-teori yang terkait dengan permasalahan yang diangkat dalam makalah.

3.2 Analisis Data

Data – data yang terkait dengan permasalahan yang diangkat dalam makalah dikumpulkan. Kemudian setelah data terkumpul, dilakukan suatu proses pemilihan, pemusatan, serta penyederhanaan data kasar untuk dibuat kesimpulan berdasarkan sub tema yang kami angkat. Dengan proses tersebut diharapkan akan menghasilkan suatu outline makalah akhir yang dapat memudahkan penulis untuk menyelesaikan makalah secara terstuktur.

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1.   Keadaan Tenaga Kerja di Negara-Negara Berkembang

Sebagian besar penduduk di negara-negara berkembang berada dalam keadaan yang ditandai dengan “kemiskinan massal”. Pertumbuhan penduduk yang dialami oleh negara-negara berkembang sangat cepat laju pertumbuhannya. Sehingga hal tersebut merupakan faktor dinamika yang paling penting, sebab faktor penduduk mempengaruhi serta menentukan arah perkembangan suatu negara di masa yang akan datang. Pertumbuhan penduduk merupakan masalah pokok dalam pembangunan ekonomi. Pengaruh pertambahan penduduk ini terlihat pada pengadaan kebutuhan-kebutuhan pokok secara total harus ditambah terutama pengadaan pangan dan mengakibatkan naiknya angkatan kerja.

Apabila jumlah penduduk tumbuh sama cepat dengan pendapatan nasional, maka pendapatan per kapita tidak bertambah. Salah satu implikasi yang menonjol dalam masalah pertumbuhan penduduk di negara – negara berkembang yaitu angkatan kerja produktif harus menanggung beban yang lebih banyak untuk menghidupi anggota keluarga secara proporsional jumlahnya hampir dua kali lipat dibandingkan dengan yang ada di negara – negara maju. Artinya, negara – negara berkembang tidak hanya dibebani oleh tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi tetapi juga angkatan kerjanya harus menaggung beban ketergantungan yang lebih berat.

Bagi negara-negara berkembang pada umumnya mengalami ledakan angkatan kerja, namun gelombang pekerja yang belum ada tarafnya sekarang sedang memasuki pasaran kerja, tetapi tidak diikuti dengan peningkatan lowongan kerja yang baru. Sehingga pengangguran di kota-kota dan di desa-desa semakin meningkat terus. Pengangguran yang terjadi di negara-negara berkembang disebabkan oleh banyaknya penduduk usia produktif yang kurang memiliki keahlian dalam bekerja dengan didukung oleh sempitnya lapangan pekerjaan yang tersedia.

Sebagiian besar penduduk di negara-negara berkembang bekerja di daerah pedesaan. Lebih dari 65% penduduknya tinggal secara permanen bahkan turun-temurun. Demikian pula sekitar 58% angkatan kerja di negara-negara berkembang mencari nafkah di sektor pertanian yang menyumbang GNI sebesar 14%. (Smith,2006). Seperti yang tertera pada tabel berikut :

Tabel 1.  Populasi Agkatan Kerja, dan Produksi Pertanian di Berbagai Kawasan Maju dan Berkembang di Tahun 2002-2003

Wilayah Populasi (Juta) Kota (Persen) Desa (Persen) %Pekerja Pertanian %Sumbangan Pertanian bagi GDP
Dunia 6314 47 53 49 5
Negara Maju

Eropa

Amerika Utara

Jepang

1202

727

323

127

75

73

79

78

25

27

21

22

5

7

3

7

3

3

2

2

Negara Berkembang

Afrika

Asia Selatan

Asia Timur

Amerika Latin

5112

861

1480

1918

540

40

33

30

40

75

60

67

70

60

25

49

5

7

3

7

14

20

30

18

10

Sumber: Population Reference Bureau, 2003 World Population Data Sheet (Washington, D.C.: Population Reference Bureau, 2003) : World Bank, World Development Indicators, 2004 (New York : Oxford University Press, 2004), tabs. 4 dan 12. Angka angkatan kerja pertanian berdasarkan hasil perkiraan bank dunia tahun 1997.

Banyaknya penduduk di negara-negara berkembang yang bekerja di sektor pertanian serta memproduksi output primer (bahan-bahan mentah) dikarenakan pada suatu kenyataan bahwa tingkat pendapatan yang rendah sehingga prioritas pertama bagi penduduk tersebut adalah pangan, pakaian dan papan. Selain itu juga dikarenakan tenaga kerja di negara-negara berkembang memiliki kualitas yang rendah bila dibandingkan dengan negara-negara maju sehingga tidak dapat bersaing dengan tenaga kerja di negara-negara maju. Indikator dari rendahnya kualitas tenaga kerja di negara-negara berkembang salah satunya dipengaruhi oleh pendidikan yang rendah.

Pendidikan merupakan faktor yang menentukan terhadap kualitas dari tenaga kerja di suatu negara dan merupakan unsur yang mendasar bagi pertumbuhan ekonomi.  Modal pendidikan yang lebih baik dapat meningkatkan pengembalian atas investasi pendapatan. Sebagian besar tenaga kerja di negara – negara berkembang hanya menempuh pendidikan hingga bangku Sekolah Dasar dibandingkan dengan negara maju yang standarisasi pendidikannya lebih tinggi, yaitu tenaga kerja yang berpendidikan sarjana.

4.2.    Solusi Pelaksanaan Pembangunan Ekonomi di Negara-Negara   Berkembang

Pertambahan penduduk yang pesat tidak selalu merupakan penghambat jalannya pembangunan ekonomi, asal saja penduduk tersebut mempunyai kapasitas yang tinggi untuk menghasilkan dan menghisap hasil produksi yang dihasilkan. Keberhasilan usaha pembangunan ekonomi dalam suatu negara dipengaruhi dan ditentukan oleh banyak faktor, salah satunya yaitu faktor tenaga kerja.

Peranan tenaga kerja dalam pembangunan ditentukan oleh jumlah dan mutu tenaga kerja yang tersedia sebagai pelaksana berbagai usaha di lapangan pekerjaan yang tersedia. Tenaga kerja di negara – negara berkembang yang banyak bekerja di sektor pertanian dapat disalurkan pada sektor industri yang mampu menyerap relatif lebih banyak tenaga kerja, terutama yang bersifat padat karya. Jumlah penawaran tenaga kerja di negara – negara berkembang yang tinggi disebabkan oleh pertumbuhan penduduk yang pesat dapat dimanfaatkan dengan mengadakan pelatihan-pelatihan oleh pemerintah. Pelatihan-pelatihan yang diberikan tersebut bertujuan untuk memberdayakan tenaga kerja yang berlebih agar sumber-sumber alam yang melimpah dan belum diolah secara maksimal menghasilkan sesuatu yang dapat menaikkan angka pertumbuhan ekonomi.

Jumlah penduduk yang banyak atau khususnya tenaga kerja yang menganggur, tidak selalu menjadi bahaya stagnasi dalam pembangunan. Tenaga kerja yang kurang produktif terutama yang terpaksa menganggur dapat dimanfaatkan dengan menciptakan lapangan kerja, yang direalisasikan melalui berbagai proyek pekerjaan umum. Sehingga penciptaan lapangan pekerjaan merupakan salah satu tujuan dari pembangunan.

Pembangunan ekonomi harus dibarengi dengan pembangunan dalam pendidikan yang dapat meningkatkan kualitas tenaga kerja. Salah satu peningkatan pendidikan terhadap tenaga-tenaga kerja di negara-negara berkembang, yaitu dengan melakukan inovasi pendidikan dalam semua aspek. Hal ini dikarenakan untuk mengisi lapangan kerja yang tersedia diperlukan tenaga kerja yang memiliki kecakapan dan keterampilan yang sesuai dengan keperluan pembangunan.

BAB V

PENUTUP

5.1    Kesimpulan

Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan ekonomi, manusia, sosial budaya, dan politik, untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil, dan makmur. Dalam melaksanakan pembangunan nasional, perluasan lapangan kerja dan peningkatan kualitas tenaga kerja mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan tujuan pembangunan. Masalah yang banyak dihadapi oleh negara – negara berkembang yaitu laju pertumbuhan penduduk yang sangat cepat sehingga menjadi masalah pokok dalam pembangunan ekonomi. Pengaruh pertambahan penduduk ini terlihat pada pengadaan kebutuhan-kebutuhan pokok secara total harus ditambah terutama pengadaan pangan dan mengakibatkan naiknya angkatan kerja.

Negara – negara berkembang tidak hanya dibebani oleh tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi tetapi juga angkatan kerjanya harus menaggung beban ketergantungan yang lebih berat. Selain itu, ledakan angkatan kerja banyak dialami oleh negara – negara berkembang yang tidak diikuti dengan meningkatnya perluasan lapangan kerja sehingga terjadi pengangguran baik di kota – kota maupun di desa – desa. Jumlah penawaran tenaga kerja yang tinggi di negara – negara berkembang tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas tenaga kerja. Tenaga kerja di negara-negara berkembang memiliki kualitas yang rendah bila dibandingkan dengan negara-negara maju sehingga tidak dapat bersaing dengan tenaga kerja di negara-negara maju. Indikator dari rendahnya kualitas tenaga kerja di negara-negara berkembang salah satunya dipengaruhi oleh pendidikan yang rendah.

Pembangunan ekonomi harus dibarengi dengan pembangunan dalam pendidikan yang dapat meningkatkan kualitas tenaga kerja. Salah satu peningkatan pendidikan terhadap tenaga-tenaga kerja di negara-negara berkembang, yaitu dengan melakukan inovasi pendidikan dalam semua aspek. Keberhasilan usaha pembangunan ekonomi dalam suatu negara dipengaruhi dan ditentukan oleh banyak faktor, salah satunya yaitu faktor tenaga kerja. Peranan tenaga kerja dalam pembangunan ditentukan oleh jumlah dan mutu tenaga kerja yang tersedia sebagai pelaksana berbagai usaha dilapangan pekerjaan. Pertumbuhan penduduk yang sangat cepat di negara – negara berkembang, khususnya tenaga kerja yang menganggur tidak selalu menjadi bahaya stagnasi dalam pembangunan ekonomi. Tenaga kerja yang terpaksa menganggur dapat dimanfaatkan dengan menciptakan lapangan kerja, yang direalisasikan melalui berbagai proyek pekerjaan umum. Sehingga permasalahan megenai tenaga kerja di negara – negara berkembang dapat teratasi dengan baik dan tidak lagi menjadi permasalahan yang menghambat pembangunan ekonomi. Peningkatan kualitas tenaga kerja yang direalisasikan melalui peningkatan mutu pendidikan dapat menjadi solusi dalam melaksanakan pembangunan ekonomi.

5.2    Saran

Berdasarkan uraian dari penulisan makalah yang penulis buat, saran atau rekomendasi yang penulis ajukan untuk menyempurnakan penulisan dari makalah ini yaitu :

  1. Perlu adanya penelitian yang dilakukan untuk mempertajam hasil penulisan dari makalah ini atau guna untuk menjawab beberapa pertanyaan yang muncul ketika penulisan berlangsung,
  2. Penulis menyarankan langkah – langkah operasional yang dapat dilakukan untuk mengatasi / memecahkan masalah yang diangkat yaitu sebagai civitas akademik yang akan melanjutkan pembangunan ekonomi, kita  harus meningkatkan kualitas pendidikan dengan cara menuntut ilmu setinggi mungkin minimal menyelesaikan tingkat sarjana Strata 1 agar dapat melakukan pembangunan ekonomi. Sehingga kualitas tenaga kerja yang dimiliki negara Indonesia memiliki kualitas yang dapat bersaing dengan negara – negara lain.

DAFTAR PUSTAKA

Baldwin, Meier. 1964. Economic Development Theory, History, Policy, John Wiley and Sons.

Hirschman O Albert. 1970. Strategi dalam Pembangunan Ekonomi. Sitohang Paul, penerjemah. PT.Dian Rakyat. Terjemahan dari: The Strategy of Economic Development.

Richard Lipsey, dkk. 1992. Pengantar Makroekonomi. Agus Maulana, penerjemah. Jakarta:Binarupa Aksara. Terjemahan dari: Economics.

Sen Amartya. 1998. “Commodities and Capabilitiesdalam Pembangunan Ekonomi, Editor : Munandar, dkk, PT. Erlangga: Jakarta.

Smith C Stephen, Todaro P. Michael. 2006. Pembangunan Ekonomi. Munandar, dkk, penerjemah. Jakarta: PT Erlangga. Terjemahan dari: Economic Development.

Sukirno Sudino. 1981. Pengantar Teori Makroekonomi. Jakarta: Bina Grafika

ABSTRAK

Komunikasi kelompok merupakan interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagai informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota – anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota – anggota yang lain secara tepat. Komunikasi kelompok yang sering dijumpai adalah yang terjadi pada kalangan remaja yang membentuk kelompok pertemanan. Pada masa remaja, kecenderungan untuk menjadi anggota kelompok sebaya sangat kuat dalam diri remaja. Remaja sering merasa mendapatkan persetujuan dan penerimaan dari teman sebayanya. Proses komunikasi kelompok yang terjadi pada kelompok pertemanan dikalangan remaja terdapat hambatan yang menyebabkan terganggunya efektivitas dalam berkomunikasi. Pertengkaran diantara sesama anggota kelompok menyebabkan efektivitas komunikasi kelompok terganggu. Keberhasilan komunikasi kelompok tidak sepenuhnya tercapai karena pertengkaran diantara sesama anggota kelompok. Pertengkaran dalam kelompok pertemanan membawa pengaruh terhadap efektivitas komunikasi kelompok.

ABSTRACT

Group communication is an interaction of face-to-face between three people or more, with the aim of which is well known, sucs as various information, keeping themeselves, solving problems, which the members can remember the personal characteristics of members – others member properly. Group communication are often found to occur in teenagers who form a friendship froup. In adoloscence, the tendency to become a member of peer group a powerful in adolescence. Teenegers often feel approval and acceptence from their peer group. The process of group communication that occurs in friendship groups adolescents are barriers that cause the effectiviness of communication. Arguments among the members led to the effectiveness of group communications disrupted. The success of the group communication is not fully achieved because of a fight between fellow members of the group. Arguments in agroup of friends take effect in the effectiveness of group communication.

RINGKASAN

Kalangan remaja dalam kapasitasnya sebagai kalangan transisional (masa peralihan) selalu diidentikan dengan golongan yang masih mencari identitasnya. Artinya, keremajaan merupakan gejala sosial yang bersifat sementara, oleh karena berada antara usia kanak – kanak dengan dewasa. Di usianya yang berada pada masa peralihan, pola sikap tindak remaja ingin diakui dan dihargai oleh sesama remaja (biasanya dalam kelompok sepermainan atau “peer-group”) yang dianggap sebagai suatu pengakuan terhadap eksistensi (keberadaannya) dan sangat dipentingkan oleh remaja. Pada masa remaja. Kecenderungan untuk membentuk kelompok pertemanan dan menjadi anggota kelompok sebaya sangat kuat dalam diri remaja.

Berangkat dari kecenderungan remaja untuk membentuk kelompok pertemanan tersebut, maka dilakukanlah penulisan makalah ini. Penulisan ini dilakukan untuk melihat pertengkaran yang terjadi pada kelompok pertemanan di kalangan remaja, lalu dilihat pengaruh pertengkaran terhadap efektivitas komunikasi kelompok dikalangan remaja. Bagi remaja, teman sebaya mendapat perhatian dan prioritas utama lebih dari perhatian dan prioritas bagi keluarga. Karena kawan – kawan mereka dianggap lebih mudah memberikan pengertian, dukungan, dan penampungan.

Seringkali remaja menghadapi kesulitan justru karena pergaulannya. Dalam kelompok pertemana, terkadang proses komunikasi kelompok yang terjadi antar sesama anggota terdapat hambatan – hambatan yang menyebabkan terganggunya keefektifan dalam berkomunikasi. Pertengkaran yang sering terjadi diantara sesama anggota kelompok menyebabkan efektivitas dalam berkomunikasi terganggu. Pertengkaran yang terjadi dikarenakan adanya kesalahpahaman diantara sesama anggota kelompok. Selain itu adanya ketidakcocokan diantara sesama anggota kelompok dapat menyebabkan pertengkaran dalam kelompok pertemanan. Efektivitas dalam komunikasi kelompok dipengaruhi oleh adanya pertengkaran atau tidak yang terjadi pada anggota kelompok.

Terjadinya pertengkaran diantara sesama anggota kelompok membuat keberhasilan komunikasi kelompok tidak sepenuhnya tercapai. Komunikasi itu dikatakan efektif bila anggota mampu memberikan informasi kepada kelompok mengenai suatu program secara selektif atau mengurangi kesimpangsiuran informasi. Tingkat efektivitas komunikasi kelompok cenderung rendah dengan adanya pertengkaran diantara sesama anggota kelompok.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Wiryanto (2008) menyatakan bahwa proses komunikasi merupakan aktivitas yang mendasar bagi manusia sebagai makhluk sosial. Dalam kehidupan sehari – hari manusia tidak terlepas dalam kegiatan komunikasi. Baik itu komunikasi dengan teman, keluarga, dosen, maupun komunikasi dengan diri sendiri. Sering dijumpai proses komunikasi yang dilakukan oleh orang atau sekelompok orang. Proses komunikasi yang dilakukan oleh manusia bisa dalam bentuk komunikasi antarpribadi ataupun dalam bentuk komunikasi kelompok. Kita sering melihat kelompok – kelompok studi di kampus, atau kita sering melihat kelompok bermain di sekolah. Hal itu merupakan salah satu bentuk bentuk dari tipe komunikasi kelompok (group communication) (Wiryanto, 2004).

Kelompok kecil adalah sekumpulan perorangan yang relatif kecil yang masing – masing dihubungkan oleh beberapa tujuan yang sama dan mempunyai derajat organisasi tertentu diantara mereka (De Vito, 1997). Komunikasi kelompok yang sering dijumpai ialah yang terjadi pada sekelompok remaja yang membentuk jejaring pertemanan atau yang dikenal dengan sebutan “gank” yang biasanya beranggotakan tidak lebih dari lima orang. Kelompok pertemanan tersebut termasuk kedalam kelompok kecil. Jejaring pertemanan itu juga dapat dikatakan kelompok primer. Rakhmat (2004) menyatakan bahwa kelompok primer merupakan kelompok yang hubungannya dekat, lebih akrab, dan lebih personal seperti keluarga, kawan – kawan sepermainan dan tetangga – tetangga yang dekat. Saat ini hampir semua di kalangan remaja membentuk suatu “gank”, baik dikalangan SMP, SMA, maupun ditempat perkuliahan. Bahkan untuk dikalangan anak SD pun tak sedikit yang sudah mulai membentuk jejaring pertemanan seperti itu. Jejaring pertemanan seperti itu tidak hanya terjadi di kalangan remaja saja, untuk dikalangan orang dewasa ataupun orang tua juga banyak dari mereka yang membentuk suatu “gank” atau kelompok pertemanan.

Kalangan remaja beranggapan bahwa dengan membentuk suatu kelompok pertemanan, hubungan mereka dengan anggota yang lainnya akan menjadi semakin dekat karena tingkat kedekatan yang mereka bina. Jejaring pertemanan yang dibentuk oleh remaja dibentuk berdasarkan berbagai latar belakang. Ada yang dibentuk berdasarkan kesamaan hoby, namun ada juga yang dibentuk karena kecocokan diantara masing – masing individu dari awal perkenalan hingga terus berkelanjutan sampai ke tingkat persahabatan. Pada umumnya kelompok mengembangkan norma atau peraturan mengenai perilaku yang diinginkan (De Vito, 1997).

Terkadang dalam proses komunikasi kelompok yang terjadi dalam kelompok pertemanan (“gank”) dikalangan remaja terdapat hambatan – hambatan yang menyebabkan terganggunya efektivitas dalam berkomunikasi. Hambatan – hambatan tersebut yang menyebabkan terganggunya keefektifan komunikasi kelompok dalam hubungan pertemanan dikalangan remaja, misalnya adanya konflik yang terjadi antar anggota dalam kelompok tersebut. Tidak jarang banyak remaja yang mengalami pertengkaran dengan sesama anggotanya di dalam kelompok pertemanan. Banyak hal yang dapat menyebabkan terjadinya pertengkaran dalam kelompok pertemanan atau “gank” dikalangan remaja. Misalnya saja karena kesalahpahaman diantara sesama anggota sehingga terjadilah pertengkaran. Selain itu bisa saja pertengkaran itu disebakan karena masalah percintaan yang dialami oleh anggota kelompok tersebut seperti misalnya perebutan pacar diantara mereka sehingga memicu terjadinya pertengkaran. Hal seperti itu khususnya banyak terjadi dikalangan remaja perempuan.

Pertengkaran yang terjadi diantara sesama anggota kelompok pertemanan tersebut akan membawa pengaruh terhadap efektivitas komunikasi kelompok. Akibat pertengkaran yang terjadi dapat menghambat proses berkomunikasi diantara anggota kelompok pertemanan atau “gank”. Pengaruh yang dapat dirasakan oleh anggota kelompok yang mengalami konflik pertengkaran bisa sampai pada terjadinya perpecahan diantara sesama anggota yag diakibatkan konflik yang berkepanjangan, dan juga tidak dapat diselesaikan oleh anggota. Sehingga membuat suatu kelompok pertemanan berjalan tidak efektif bahkan sampai terjadinya pembubaran kelompok pertemanan.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah yang dirumuskan yaitu :

  1. Apakah yang menyebabkan terjadinya pertengkaran dalam suatu kelompok pertemanan dikalangan remaja ?
  2. Bagaimanakah pengaruh pertengkaran terhadap efektivitas komunikasi kelompok dikalangan remaja ?
  3. Langkah – langkah apakah yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya pertengkaran diantara sesama anggota kelompok pertemanan ?

1.3. Tujuan

Berdasarkan perumusan masalah tersebut,tujuan dari penulisan ini yaitu:

  1. Mengidentifikasi penyebab terjadinya pertengkaran dalam suatu kelompok pertemanan dikalangan remaja.
  2. Mengetahui pengaruh pertengkaran terhadap efektivitas komunikasi kelompok dikalangan remaja.
  3. Mengidentifikasi langkah – langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya pertengkaran.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1.      Pembentukkan Komunikasi Kelompok Pertemanan di Kalangan Remaja

Dalam kehidupan sehari – hari manusia tidak pernah terlepas dari kegiatan komunikasi. Baik itu kegiatan komunikasi dengan teman – teman, keluarga, dosen, maupun komunikasi dengan diri sendiri. Proses komunikasi yang dilakukan manusia dapat dilakukan dalam bentuk komunikasi antar pribadi maupun dalam bentuk komunikasi kelompok. Sering dijumpai kelompok – kelompok studi di kampus, ataupun kelompok bermain di sekolah. Hal itu merupakan salah satu bentuk tipe komunikasi kelompok (group communication) (Wiryanto, 2004)[1]. Komunikasi kelompok yang sering dijumpai adalah yang terjadi pada sekelompok remaja yang membentuk jejaring pertemanan atau yang dikenal dengan “gank”. Kelompok pertemanan tersebut termasuk kedalam kelompok kecil. Menurut Cooley (1909) dalam Rakhmat (2004)[2] kawan – kawan sepermainan tergolong kepada kelompok primer. Hal tersebut dikarenakan hubungan dalam kelompok primer terasa lebih akrab, personal dan lebih menyentuh hati.  Komunikasi kelompok kecil (small group communication) merupakan proses komunikasi antara tiga orang atau lebih yang berlangsung secara tatap muka. Dalam kelompok tersebut anggota berinteraksi satu sama lain.

Masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Remaja adalah seorang yang sedang mengalami perkembangan pesat menuju pada kedewasaan, dan berusia 12 – 19 tahun. Pada usia remaja, terdapat kecenderungan dalam diri remaja untuk membentuk suatu kelompok pertemanan atau “gank” dengan teman – teman sebaya. Bagi remaja, teman sebaya mendapat perhatian dan prioritas utama lebih dari perhatian dan prioritas bagi keluarga. Karena kawan – kawan mereka dianggap lebih mudah memberikan pengertian, dukungan, dan penampungan. Banyak remaja yang beranggapan bahwa teman selalu siap menampung masalah karena merasa senasib. “ Remaja sering merasa mendapat “approval” (persetujuan) dan “acceptance” (penerimaan) dari teman – teman sebayanya” (Achir dalam Sanusi, 1996)[3].

Sigelmann dan Shaffer (1995) dalam Yusuf (2004)[4] menyatakan bahwa social cognition berpengaruh kuat terhadap minat remaja untuk bergaul atau membentuk persahabatan dengan teman sebaya. Di usia remaja, banyak remaja mulai membentuk kelompok bermain atau “gank” dengan teman – teman sebayanya. Mereka lebih memperluas minatnya untuk bergaul dan membentuk persahabatan, bahkan di kalangan siswa SD pun sudah mulai membentuk kelompok pertemanan atau “gank”. Munandar dalam Sanusi (1996)[5] menyatakan bahwa kecenderungan untuk menjadi anggota kelompok dengan teman sebaya pada masa remaja sangatlah kuat. Remaja menginginkan teman, dan menginginkan sekali dapat diterima sebagai anggota kelompok remaja yang kuat ikatan antar anggotanya. Kalangan remaja beranggapan bahwa dengan tergabung kedalam suatu kelompok pertemanan, hubungan mereka dengan antar anggota akan semakin dekat dan akrab. Umumnya, para remaja membentuk suatu kelompok pertemanan di lingkungan sekolah.

“Keikutsertaan individu menjadi anggota kelompok disebabkan alasan – alasan sebagai berikut : (1) perhatian dan keikutsertaan individu ditumbuhkan oleh solidaritas kelompok, (2) perubahan sikap akan lebih mudah terjadi apabila individu berada dalam satu kelompok, selanjutnya keputusan – keputusan kelompok akan lebih mudah diterima dan dilaksanakan apabila individu terlibat dalam pengambilan keputusan, (3) kepercayaan besar yang diberikan kepada kelompok” (Wiryanto, 2004)[6].

Pada umumnya, remaja membentuk suatu kelompok pertemanan atau “gank’ didasarkan pada adanya kecocokan diantara masing – masing individu dari awal perkenalan hingga terus berlanjut sampai ke tingkat persahabatan. Jumlah anggota kelompok yang mereka bentuk biasanya tidak lebih dari 10 orang.

2.2.      Pertengkaran dalam Kelompok Pertemanan di Kalangan Remaja

Sistem nilai, sikap dan kebiasaan yang dibawa oleh masing – masing remaja mengalami pengolahan dalam kelompok, dan sebagai hasilnya maka ada sistem nilai, sikap dan kebiasaan baru yang terbentuk dan diujicobakan dalam lingkungannya. Namun terkadang dalam proses komunikasi kelompok yang terjalin dalam kelompok pertemanan dikalangan remaja terdapat hambatan – hambatan yang menyebabkan terganggunya efektivitas dalam berkomunikasi. “Terbentuknya sistem nilai, sikap dan kebiasaan yang baru dan yang mantap dapat berhasil dipertahankan dalam proses penyerasian dengan lingkungan, tapi mungkin pula tidak berhasil dipertahankan dengan akibat timbulnya masalah – masalah baru pada remaja” (Munandar dalam Sanusi, 1996)[7]. Hambatan – hambatan tersebut yang menyebabkan terganggunya keefektifan komunikasi kelompok dalam hubungan pertemanan dikalangan remaja misalnya, adanya konflik yang terjadi diantara sesama anggota dalam kelompok pertemanan tersebut. Banyak remaja yang mengalami pertengkaran dengan sesama anggota kelompok pertemanan. Pertengkaran yang terjadi itu biasanya disebabkan oleh banyak hal, misalnya saja adanya kesalahpahaman diantara sesama anggota sehingga menimbulkan terjadinya pertengkaran. Selain itu juga penyebab terjadinya pertengakaran dalam kelompok pertemanan yang dialami remaja yaitu sudah tidak adanya kecocokan diantara masing – masing anggota. Seringkali remaja menghadapi kesulitan karena pergaulannya.

“Diantaranya adalah ingin melepaskan diri dari suatu kelompok pergaulan tertentu tetapi tidak berani atau tidak tahu caranya. Banyak remaja yang setelah masuk dalam kelompok tertentu, lalu sering bermain dan bergaul dengan kelompok itu akhirnya menyadari bahwa pergaulan mereka itu buruk dan tidak bermanfaat. Tetapi biasanya remaja segan untuk menarik diri, karena takut diejek atau dikucilkan” (Achir dalam Sanusi, 1996)[8].

Hal itulah yang akhirnya menyebabkan terjadinya pertengakaran karena timbul konflik dalam diri remaja dengan anggota kelompok yang lain. Umumnya setelah masuk kedalam suatu kelompok pertemanan atau “gank” remaja mengalami kesulitan untuk menarik diri dari kelompok tersebut. Mereka takut untuk diejek dan dikucilkan setelah keluar dari kelompok pertemanan dengan alasan harus menjaga solidaritas dengan sesama anggota kelompok.

2.3.      Pengaruh Pertengkaran Terhadap Efektivitas Komunikasi Kelompok

Akibat dari pertengkaran yang terjadi dalam suatu kelompok pertemanan dikalangan remaja akan membawa pengaruh terhadap efektivitas komunikasi kelompok. Pertengkaran yang terjadi akan menghambat proses komunikasi diantara anggota kelompok. “ Keefektifan kelompok adalah “the accomplishment of the recognized objectives of cooperative action” “( Barnard (1983) dalam Rakmat (2004) )[9].

Keberhasilan komunikasi kelompok disebabkan oleh keterbukaan anggota menanggapi, anggota dengan senang hati menerima informasi, kemauan anggota merasakan apa yang dirasakan anggota lain, situasi kelompok yang mendukung komunikasi berlangsung efektif, perasaan positif terhadap diri anggota kelompok, dorongan terhadap aorang lain agar lebih berpartisipasi, dan kesetaraan, yakni bahwa semua anggota kelompok memiliki gagasan yang penting untuk disumbangkan kepada kelompok (Wiryanto, 2004)[10].

Jika hal – hal tersebut tidak terpenuhi, maka keberhasilan komunikasi kelompok yang terjadi pada kelompok pertemanan dikalangan remaja tidak sepenuhnya tercapai karena pertengkaran yang terjadi diantara sesama anggota kelompok.

Selain itu Rakhmat (2004)[11] mengemukakan bahwa keefektifan kelompok dapat dilihat pada : (1) ukuran kelompok, dari segi komunikasi makin besar kelompok makin besar kemungkinan sebagian besar anggota tidak mendapatkan kesempatan berpartisipasi, (2) jaringan komunikasi, (3) kohesi kelompok, kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk tetap tinggal dalam kelompok, (4) kepemimpinan, faktor yang paling menentukan keefektifan komunikasi kelompok. Akibat pertengkaran yang terjadi, proses komunikasi yang terjadi diantara sesama anggota tidak akan berjalan dengan lancar. Akan ada perselisihan diantara sesama anggota kelompok karena pertengkaran yang terjadi, sehingga membuat efektivitas komunikasi kelompok tidak tercapai.

2.4.     Langkah – Langkah dalam Menyelesaikan Pertengkaran dalam Kelompok Pertemanan

Terkadang konflik yang terjadi diantara sesama anggota kelompok akan berlanjut secara berkepanjangan. Banyak remaja yang mengalami kesulitan untuk mengatasi konflik yang terjadi dengan teman kelompok pertemanannya. Bahkan biasanya pertengkaran yang terjadi semakin berlarut – larut dan semakin melebar permasalahan yang terjadi diantara mereka. Pengaruh yang dapat dirasakan oleh anggota kelompok yang mengalami konflik pertengkaran bisa sampai pada terjadinya perpecahan diantara sesama anggota  akibat konflik yang berkepanjangan dan tidak dapat terselesaikan oleh anggota. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya perpecahan diantara sesama anggota perlu adanya penyelesaian yang dilakukan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan yaitu dengan membentuk kelompok pemecahan – masalah. Menurut De Vito (1997)[12] kelompok pemecahan – masalah adalah sekumpulan individu yang bertemu untuk memecahkan suatu masalah tertentu atau untuk mencapai suatu keputusan mengenai beberapa masalah tertentu.

Dalam kelompok pertemanan harus ada yang memimpin  dalam menyelesaikan masalah pertengkaran yang terjadi diantara sesama anggota kelompok. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pendekatan pemecahan masalah untuk menyelesaikan konflik yang terjadi. Tahap – tahap dari pendekatan pemecahan masalah yaitu : (1) definisi dan analisis masalah. Suatu masalah akan lebih baik didefinisikan sebagai pertanyaan yang terbuka. Suatu pertanyaan terbuka memungkinkan terjadinya kebebasan eksplorasi yang lebih besar dan tidak membatasi bagaimana kelompok melakukan pendekatan atas pemecahan suatu masalah. (2) menyusun kriteria untuk mengevaluasi pemecahan. Terdapat dua jenis kriteria yang harus dipertimbangkan yaitu kriteria praktis dan kriteria nilai. (3) identifikasi pemecahan yang mungkin. Memusatkan lebih pada kuantitas daripada kualitas. Pada tahap ini, proses sumbang saran merupakan cara praktis untuk mengembangkan alternatif pemecahan. (4) evaulasi pemecahan. setelah semua pemecahan diajukan, para anggota kelompok kembali dan mengevaluasi pemecahan itu dengan menggunakan kriteria yang telah disusun untuk mengevaluasi alternatif pemecahan masalahnya. (5) memilih pemecahan terbaik. Pada tahap ini cara pemecahan terbaik akan dipilih dan dilaksanakan. (6) pengujian pemecahan yang dipilih. Setelah cara pemecahan terbaik dilaksanakan, lakukanlah pengujian terhadap efektivitas keputusan itu. (De Vito ,1997 )[13].

Pendekatan pemecahan – masalah tersebut dapat digunakan untuk mengatasi konflik pertengkaran yang terjadi dalam kelompok pertemanan dikalangan remaja. Pertengkaran yang terjadi diantara sesama anggota kelompok harus dapat diselesaikan dengan baik agar tidak terjadi perpecahan diantara sesama anggota atau bahkan hingga terjadi pembubaran kelompok pertemanan. Setiap anggota harus memilki peran dalam komunikasi kelompok kecil untuk menjaga agar komunikasi kelompok yang terjadi tetap terjaga keefektifannya. Dalam menjalankan setiap peran ini,anggota tidak berbuat sebagai individu yang terpisah, tetapi sebagai bagian dari keseluruhan yang lebih besar. Setiap masalah yang terjadi pada sesama anggota kelompok dibicarakan secara terbuka satu dengan yang lainnya. Agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara anggota kelompok, setiap masalah yang terjadi dibicarakan dengan baik – baik dan mencari solusi untuk menyelesaikannya. Sehingga dapat menghindari akibat yang tidak baik dari pertengkaran yang terjadi antara sesama anggota kelompok. Jika ingin kita mewujudkan suatu komunikasi yang baik, hal pertama yang mesti kita miliki adalah “kesungguhan” (Chandra, 2009)[14].

Tabel 1. Peran membina dan Mempertahankan Kelompok

Peran Tugas
Pendorong Memberikan kepada kelompok dukungan atau pemantapan positif dalam bentuk dukungan sosial atau menghargai gagasan mereka
Penjaga harmoni Menjembatani berbagai perbedaan diantara para anggota kelompok
Tukang kompromi Berusaha menyelesaikan konflik antara gagasannya dengan gagasan orang lain, dan menawarkan jalan tengah
Penjaga gerbang Mempertahankan saluran komunikasi tetap terbuka dengan mendorong partisipasi para anggota lainnya
Penyusun standar Mengusulkan standar agar kelompok dapat berfungsi atau standar pemecahannya
Pengamat kelompok dan komentator Membuat catatan tentang apa yang terjadi dan menggunakannya untuk evaluasi kelompok itu sendiri
Pengikut Selalu mengikuti para anggota kelompok, secara pasif menerima gagagasan orang lain, dan lebih berfungsi sebagai hadirin daripada sebagai anggota yang aktif

Sumber : Joseph A.De Vito, Komunikasi Antar Manusia. 1997.

BAB III

PENUTUP

3.1.    Kesimpulan

Proses komunikasi yang dilakukan oleh manusia dapat dalam bentuk komunikasi antarpribadi maupun dalam bentuk komunikasi kelompok. Komunikasi kelompok yang sering dijumpai adalah yang terjadi pada sekelompok remaja yang membentuk suatu kelompok pertemanan atau “gank’. Pada usia remaja, terdapat kecenderungan dalam diri remaja untuk membentuk suatu kelompok pertemanan atau “gank”. Kecenderungan untuk membentuk kelompok pertemanan tersebut sangat kuat dalam diri remaja. Kalangan remaja beranggapan dengan tergabungnya kedalam suatu kelompok pertemanan, hubungan mereka dengan antar anggota kelompok menjadi semakin dekat dan akrab. Dalam proses komunikasi kelompok yang terjadi pada kelompok pertemanan dikalangan remaja terdapat hambatan – hambatan yang menyebabkan terganggunya efektivitas dalam berkomunikasi. Hambatan – hambatan tersebut misalnya, adanya konflik yang terjadi antar anggota kelompok sehingga menimbulkan pertengkaran antar sesama anggota kelompok. Pertengkaran itu disebabkan oleh adanya kesalahpahaman yang terjadi diantara sesama anggota kelompok.

Pertengkaran yang terjadi diantara sesama anggota kelompok membawa pengaruh terhadap efektivitas  komunikasi kelompok. Akibat pertengkaran yang terjadi diantara sesama anggota kelompok menghambat keefektifan proses komunikasi diantara anggota kelompok. Selain itu keberhasilan komunikasi kelompok juga tidak akan tercapai dengan adanya pertengkaran. Bahkan pengaruh yang dapat dirasakan oleh anggota kelompok yang mengalami konflik pertengkaran bisa sampai pada terjadinya perpecahan diantara sesama anggota karena konflik yang berkepanjangan dan tidak terselesaikan. Penyelesaian yang dapat dilakukan untuk menghindari perpecahan diantara sesama anggota adalah dengan membentuk kelompok pemecahan masalah. Dalam kelompok pertemanan harus ada yang memimpin  dalam menyelesaikan masalah pertengkaran yang terjadi diantara sesama anggota kelompok. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pendekatan pemecahan masalah untuk menyelesaikan konflik yang terjadi.

3.2.    Saran

Berdasarkan uraian dari penulisan makalah yang penulis buat, saran atau rekomendasi yang penulis ajukan untuk menyempurnakan penulisan dari makalah ini yaitu :

  1. Perlu adanya penelitian yang dilakukan untuk mempertajam hasil penulisan dari makalah ini atau guna untuk menjawab beberapa pertanyaan yang muncul ketika penulisan berlangsung,
  2. Penulis menyarankan langkah – langkah operasional yang dapat dilakukan untuk mengatasi / memecahkan masalah yang diangkat yaitu mengadakan kegiatan talkshow kepada kalangan remaja guna menerangkan sebab akibatnya dari permasalahan yang diangkat dalam penulisan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Chandra,Jusra.2009.Cerdik Berbicara Cerdas Menguasai suasana.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

De Vito,Joseph A.1997.Komunikasi Antar Manusia.Maulana Agus, penerjemah.Jakarta: Profesional Books. Terjemahan dari Human Communication

Rakmat,Jalaludin. 2004.Psikologi Komunikasi.Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Sanusi,dkk (penyunting). 1996.Mengenal dan Memahami Masalah Remaja. Jakarta: Pustaka Antara PT (anggota IKAPI)

Wiryanto.2004.Pengantar Ilmu Komunikasi.Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia

Yusuf, LN. Syamsu. 2004.Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung:  PT Remaja Rosdakarya


[1] Wiryanto,Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta:PT gramedia Widiasarana Indonesia, 2004), h. 44

[2] Jalaludin Rakhmat,Psikologi Komunikasi, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2004), h.142

[3] Sanusi,Mengenal dan Memahami Masalah Remaja, (Jakarta:Pustaka Antara,1996), h.83

[4] Syamsu Yusuf LN,Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004),h.59

[5] Sanusi, op.cit, h.25

[6] Wiryanto, op.cit, h.47

[7] Sanusi,loc.cit

[8] Ibid, h. 85

[9] Jalaludin Rakhmat,op.cit, h.159

[10] Wiryanto, op.cit, h.48

[11] Jalaludin Rakhmat, loc.cit

[12] Joseph A. De Vito,Komunikasi Antar Manusia, (Jakarta:Profesional Books,1997), Agus Maulana,penerjemah,terjemahan dari Human Communication,h. 304

[13] Ibid, h. 304

[14] Jusra Chandra, Cerdik Berbicara Cerdas Menguasai Suasana,(Jakarta:PT Gramedia Pustaka,2009), h. 72